ATAPKOTA.COM, TEHERAN – Pemerintah Iran menyatakan tetap stabil dan bahkan mengklaim lebih kuat pascakonflik 12 hari melawan Israel. Namun, Amerika Serikat dan Israel menanggapinya dengan sikap tegas dan waspada. Kedua negara itu kini bersiap mencegah kebangkitan kembali kekuatan militer dan nuklir Teheran.
Israel menegaskan tidak akan membiarkan Iran membangun ulang fasilitas rudal dan pengayaan uranium. Seorang sumber keamanan senior Israel menyebutkan bahwa Iran kemungkinan besar akan mencoba mempercepat rekonstruksi program rudal balistiknya.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah memerintahkan IDF menyusun rencana “penegakan kawasan”. Rencana itu mencakup dominasi penuh atas wilayah udara dan pencegahan terhadap kemajuan nuklir Iran. “Israel akan mengendalikan langit dari Iran hingga Gaza,” tegas Katz, Jumat (27/6/2025).
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 7 Juli mendatang. Trump bahkan menyatakan akan mempertimbangkan opsi militer jika Iran kembali mengaktifkan pengayaan uranium secara agresif.
“Jika Iran melanjutkan programnya, kami siap merespons,” ujar Trump dalam konferensi pers pada 28 Juni.
Meskipun Israel mengklaim kemenangan, Iran disebut masih menyimpan potensi besar:
-
17 ilmuwan nuklir tewas, namun sekitar 80 ilmuwan lainnya masih aktif.
-
Iran diduga masih memiliki 1.000 rudal balistik dan 200 peluncur aktif.
-
Iran mengklaim berhasil menyelamatkan 400 kg uranium berkadar 60%.
-
Ribuan sentrifugal generasi keenam telah dipindahkan dari fasilitas Fordow.
Sebelum serangan, Iran juga telah memberitahu IAEA bahwa mereka sedang membangun fasilitas pengayaan baru. Namun, Iran tidak menyebutkan lokasi pasti, sehingga memperkuat dugaan tentang fasilitas rahasia.
Kepala Badan Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menyatakan bahwa pemulihan fasilitas nuklir berjalan sesuai rencana. Ia menegaskan bahwa Iran memiliki puluhan ribu ilmuwan dan teknisi, sehingga tidak membutuhkan bantuan asing.
Lebih jauh, sejumlah pengamat menyoroti kemungkinan Ayatollah Ali Khamenei mencabut fatwa yang melarang senjata nuklir. Jika itu terjadi, Iran bisa meningkatkan pengayaan hingga 93%—cukup untuk memproduksi 10 bom nuklir.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyatakan, “Pengetahuan tidak bisa dihancurkan. Iran bisa kembali memperkaya uranium hanya dalam hitungan bulan.”
Meskipun fasilitas fisik Iran telah rusak parah, AS dan Israel belum berhasil menghentikan ambisi nuklir Teheran secara permanen. Sebaliknya, Iran justru mengklaim bahwa kekuatan domestik dan pengaruh regionalnya kini semakin solid.
Tantangan utama bagi AS dan Israel saat ini adalah mengawasi kebangkitan militer Iran. Seorang pejabat keamanan Israel menyebutkan bahwa strategi jangka pendek dan panjang harus diterapkan:
-
Serangan lanjutan terhadap fasilitas nuklir.
-
Penggulingan rezim dan penghapusan pengaruh elit keagamaan Syiah.
Situasi kini berkembang menjadi permainan “kucing dan tikus”. Iran bersiap bangkit, sementara Israel dan AS tidak akan membiarkan mereka bernapas terlalu lama. **(JCPA)

































