ATAPKOTA.COM – Industri perfilman nasional mencatatkan sejarah baru pada penghujung tahun 2025. Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, jumlah penonton film Indonesia mencapai 80.270.000 orang, melampaui capaian tahun 2024 yang mencatat 80.210.000 penonton.
Pencapaian tersebut menegaskan posisi film nasional sebagai tuan rumah di negeri sendiri, sekaligus menunjukkan daya saing industri perfilman Indonesia yang semakin kuat.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 9 Januari 2026.
“Angka ini tidak hanya menjadi rekor baru, tetapi juga bukti ketangguhan ekosistem perfilman Indonesia,” ujar Fadli Zon.
Ia menilai capaian tersebut semakin bermakna mengingat sepanjang 2025 industri bioskop sempat menghadapi tantangan operasional akibat dinamika sosial di sejumlah wilayah. Meski demikian, antusiasme masyarakat tetap tinggi dan mampu menjaga keberlanjutan industri layar lebar nasional.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, juga mengapresiasi kepercayaan publik terhadap film nasional.
“Dengan 201 judul film yang dirilis sepanjang 2025, kreativitas sineas Indonesia terbukti terus tumbuh. Ini menjadi momentum agar film Indonesia semakin berjaya di dalam negeri dan bersinar di kancah global,” kata Mahendra.
Sepanjang 2025, tercatat 201 judul film Indonesia beredar di bioskop. Dari jumlah tersebut, genre horor mendominasi dengan 90 judul, disusul 66 judul drama, serta genre lain seperti komedi, laga, dan religi.
Kinerja layanan perfilman yang dikelola Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan juga menunjukkan tren positif. Selama Januari–Desember 2025, diterbitkan 2.732 Tanda Pemberitahuan Pembuatan Film (TPPF). Sebanyak 54 persen di antaranya merupakan TPPF film, mencakup film pendek, film panjang, film serial, dan bentuk produksi lainnya.
Seiring meningkatnya aktivitas produksi, sepanjang 2025 tercatat 41.092 film dan iklan dinyatakan lulus sensor. Dari jumlah tersebut, 64,4 persen merupakan karya nasional, sementara 35,6 persen merupakan produksi impor.
Berdasarkan klasifikasi usia, film dan iklan yang lulus sensor terdiri atas 11.930 kategori Semua Umur (SU), 19.859 kategori 13+, 8.982 kategori 17+, dan 321 kategori 21+.
Pada periode yang sama, layanan Surat Rekomendasi Impor Film (SRIF) mencatat 1.038 permohonan dari 36 perusahaan, dengan film impor berasal dari 52 negara. Negara asal terbanyak antara lain Amerika Serikat, India, Hong Kong, Korea Selatan, Tiongkok, Jepang, Prancis, Thailand, Taiwan, dan Malaysia.
Indonesia juga semakin diminati sebagai lokasi produksi film internasional. Sepanjang 2025, tercatat 2.114 kru asing melakukan pengambilan gambar di berbagai wilayah Indonesia. Kementerian Kebudayaan menerbitkan 158 surat persetujuan shooting film asing, yang mencakup film dokumenter, iklan, reality show, film naratif, serial, hingga video musik.
Produksi tersebut melibatkan pelaku industri dari berbagai negara, dengan jumlah kru terbanyak berasal dari Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat, serta negara-negara Asia, Eropa, dan Australia lainnya.
Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem perfilman nasional melalui kebijakan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Penguatan regulasi, peningkatan layanan publik, serta perluasan kolaborasi nasional dan internasional akan terus diakselerasi.
Capaian sepanjang 2025 ini menjadi fondasi penting bagi film Indonesia untuk tidak hanya berjaya di dalam negeri, tetapi juga tampil sebagai kekuatan budaya yang berdaya saing di tingkat global. (AK1)


































