ATAPKOTA.COM, SUMATERA UTARA – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mengandalkan dua inovasi dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2026. Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution memaparkan strategi pengelolaan aset olahraga Dinas Kepemudaan dan Keolahragaan (Dispora) melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) serta efisiensi penggunaan obat di Rumah Sakit (RS) Haji Medan, Selasa (3/11/2026).
Kedua inovasi tersebut dipresentasikan Bobby secara daring dari Kabupaten Langkat dalam agenda Presentasi Kepala Daerah untuk penilaian IGA 2026. Sumut masuk dalam jajaran finalis dan akan bersaing dengan sembilan daerah lainnya.
Dalam pemaparannya, Bobby menjelaskan bahwa Dispora Sumut memiliki aset dengan nilai sekitar Rp3,1 triliun. Sebagian besar aset tersebut merupakan fasilitas olahraga yang berkaitan dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024.
Menurut Bobby, pengelolaan aset tersebut membutuhkan biaya operasional dan pemeliharaan yang tidak sedikit. Pemprov Sumut selama ini mengalokasikan sekitar Rp15 miliar setiap tahun untuk kebutuhan tersebut.
Pemprov Sumut kemudian menyiapkan skema pengelolaan melalui BLUD agar aset olahraga dapat dimanfaatkan secara lebih produktif dan mampu menopang kebutuhan operasionalnya sendiri.
“Setiap tahunnya kami mengeluarkan anggaran sekitar Rp15 miliar untuk maintenance dan operasional aset olahraga kami. Lewat BLUD, target kami 2029 Dispora sudah mandiri untuk pengelolaan aset-aset ini,” kata Bobby.
Target tersebut menjadi salah satu tantangan penting dalam pengelolaan aset pasca-PON 2024. Sebab, keberhasilan pengelolaan tidak hanya diukur dari besarnya nilai aset, tetapi juga kemampuan memanfaatkannya secara berkelanjutan tanpa terus membebani anggaran daerah.
Inovasi kedua yang dipaparkan Bobby berkaitan dengan efisiensi operasional RS Haji Medan, khususnya dalam penggunaan dan pengadaan obat-obatan.
Bobby menilai pengelolaan persediaan obat perlu dilakukan secara lebih terukur. Ia menyoroti risiko penumpukan obat hingga melewati masa kedaluwarsa, sementara belanja obat menjadi salah satu komponen pengeluaran penting dalam operasional rumah sakit.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Sumut menerapkan kebijakan pembelian berdasarkan kebutuhan, pendataan jenis obat yang paling banyak digunakan masyarakat, serta pengaturan pemberian obat secara efisien tanpa mengurangi kualitas pelayanan.
“Kami memperketat kebijakan pembelian obat-obatan, mendata secara detail obat-obatan apa yang paling banyak dibutuhkan masyarakat, membuat kebijakan pemberian obat seefisien mungkin tanpa mengurangi kualitas pelayanan,” ujar Bobby.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menekan pemborosan anggaran sekaligus menjaga ketersediaan obat bagi pasien. Namun, efektivitas kebijakan ini perlu diukur melalui data penghematan belanja, jumlah obat kedaluwarsa, ketersediaan obat, serta mutu pelayanan kepada pasien.
Salah seorang anggota tim penilai, Prof. Diah Natalisa, mengapresiasi keberhasilan Sumut masuk dalam nominasi finalis IGA 2026. Ia menyampaikan apresiasi tersebut sebelum mengajukan dua pertanyaan terkait inovasi yang dipresentasikan Bobby.
“Bangga sekali Sumatera Utara bisa masuk nominasi, menjadi finalis IGA 2026,” kata Diah.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Pelaksana Tugas Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Raden Gani Muhammad, para kepala daerah yang masuk nominasi, serta tim penilai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ombudsman, Kementerian Dalam Negeri, dan kalangan akademisi.
Masuknya Sumut sebagai finalis menjadi pengakuan awal dalam proses penilaian inovasi pemerintahan. Meski demikian, capaian tersebut belum berarti kedua inovasi telah terbukti berhasil mencapai seluruh targetnya.
Publik masih perlu melihat sejauh mana skema BLUD mampu mengurangi ketergantungan pembiayaan aset olahraga terhadap APBD dan bagaimana efisiensi belanja obat di RS Haji Medan berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan kesehatan.(AP/red)

































