ATAPKOTA.COM – Kesadaran spiritual kini menjadi kebutuhan mendesak untuk membangun budaya dan akal budi manusia Indonesia yang beradab. Dorongan duniawi yang berlebihan, menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, harus dikendalikan agar manusia tak semakin jauh dari nilai Ketuhanan.
Dalam dialog santai bersama sahabat dan kerabat Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) di Gasebo Museum Sasmitaloka Jenderal Achmad Yani, Sabtu (4/10/2025), Sri Eko menegaskan bahwa spiritualitas harus “dibumikan”. Menurutnya, kesadaran rohaniah dapat menuntun manusia agar tidak terjebak pada keserakahan, kerakusan, dan kesewenang-wenangan.
“Manusia adalah makhluk paling mulia karena dipercaya sebagai khalifatullah di bumi,” ujar Sri Eko.
“Namun tanpa kesadaran spiritual, kemuliaan itu bisa hilang karena manusia lupa pada etika, moral, dan akhlak.”
Sri Eko menilai, kecerdasan spiritual wajib dimiliki seorang pemimpin politik agar dapat mengembalikan marwah dan jati diri bangsa. Ia mengingatkan, nilai kemanusiaan dan Ketuhanan adalah kunci penyelamat bangsa dari kehancuran moral.
Ia juga menyoroti keresahan orang tua modern yang menghadapi anak-anak cerdas secara intelektual, namun kehilangan sopan santun dan rasa hormat.
“Anak-anak zaman kini unggul dalam logika, tapi miskin etika. Mereka pintar, tapi tak lagi beradab,” tuturnya.
Menurut Sri Eko, gejala itu muncul karena pelajaran Budi Pekerti tak lagi dianggap penting di sekolah. Padahal, pada era 1970-an, pendidikan moral dan sopan santun menjadi dasar pembentukan karakter bangsa. Akibatnya, generasi muda kini mudah menggunakan bahasa kasar, terutama di media sosial.
Ia menyebut, Akal Budi sejatinya adalah gabungan antara akal dan hati—antara rasio dan nilai moral. Keduanya harus seimbang agar manusia tak kehilangan kemanusiaannya.
“Tanpa akal budi, manusia hanya akan jadi makhluk cerdas tanpa arah,” tegasnya.
Sri Eko juga menekankan pentingnya kesadaran budaya dalam berbahasa. Menurutnya, degradasi moral tercermin dari cara berbicara yang tidak mengenal unggah-ungguh.
Ia mencontohkan, masyarakat Jawa mengenal bahasa berjenjang seperti kromo inggil dan ngoko yang disesuaikan dengan lawan bicara. Hal itu, katanya, perlu dihidupkan kembali dalam semua suku bangsa sebagai wujud penghormatan dan adab.
Kesadaran spiritual, akal budi, dan budaya sopan santun, menurut Sri Eko, merupakan fondasi peradaban bangsa. Tanpa itu, Indonesia akan kehilangan arah dan jati dirinya sebagai bangsa yang berketuhanan dan berbudaya luhur.
Penulis : Jacob Ereste
Editor : Redaksi.

































