ATAPKOTA.COM – Dr. Dan Diker, Presiden Jerusalem Center for Security and Foreign Affairs (JCFA), menilai langkah terbaru Amerika Serikat terhadap Venezuela bukanlah sebuah kebetulan. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan pesan langsung dan tegas dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada rezim Iran.
Diker menyatakan bahwa Venezuela selama ini dipandang berfungsi sebagai basis strategis Iran di Amerika Latin, yang disebutnya menjadi pusat aktivitas terorisme, peredaran narkotika, serta perluasan pengaruh regional. Oleh karena itu, tindakan Amerika Serikat di Venezuela, menurut Diker, dimaksudkan untuk mengirimkan sinyal kuat kepada Teheran bahwa pemerintahan Trump serius dengan ancamannya untuk melakukan intervensi.
Lebih lanjut, Diker menilai bahwa gejolak yang saat ini terjadi di Iran bersifat organik, namun secara fundamental berbeda dibandingkan gelombang protes sebelumnya. Ia menyoroti sejumlah faktor yang dinilainya memperkuat tekanan terhadap rezim Iran.
“Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Juni 2025, peringatan terbuka Presiden Trump bahwa ia siap melakukan intervensi demi kepentingan rakyat Iran, serta perkembangan situasi di Venezuela telah menciptakan momen kritis,” ujar Diker dikutip dari JCFA.
Menurutnya, rangkaian peristiwa tersebut membuat rezim Iran berada dalam kondisi tertekan dan, dalam istilah yang ia gunakan, “gemetar ketakutan.”
Dalam konteks regional yang lebih luas, Diker juga menekankan pentingnya posisi strategis Somaliland sebagai sekutu Muslim baru Israel. Ia menilai wilayah tersebut memiliki nilai geopolitik tinggi karena berada di persimpangan strategis Teluk Aden dan Laut Merah.
Diker menyebut, kehadiran Somaliland dalam poros strategis tersebut secara langsung melemahkan pengaruh Iran, kelompok Houthi, serta jaringan yang ia sebut sebagai poros teror. Selain itu, langkah tersebut juga dinilai mengirimkan pesan regional dan psikologis yang kuat, termasuk kepada Arab Saudi.
Sumber : JCFA


































