ATAPKOTA.COM, MEDAN — Kepolisian Daerah Sumatera Utara mencatat penurunan signifikan angka gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) serta kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan Operasi Ketupat Toba 2026 yang digelar untuk pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Data tersebut disampaikan Polda Sumut di Medan pada Selasa, 31 Maret 2026.
Berdasarkan data kepolisian, jumlah gangguan kamtibmas pada periode sebelum operasi, yakni 28 Februari hingga 12 Maret 2026, tercatat 2.340 kejadian. Sementara selama pelaksanaan Operasi Ketupat Toba pada 13–25 Maret 2026, jumlahnya turun menjadi 1.772 kejadian.
Artinya, terjadi penurunan sebanyak 568 kasus atau sekitar 24,27 persen.
Kabid Humas Polda Sumut Komisaris Besar Polisi Ferry Walintukan mengatakan capaian tersebut menunjukkan efektivitas pengamanan terpadu yang dilakukan kepolisian bersama berbagai pihak.
“Penurunan gangguan kamtibmas dan kecelakaan lalu lintas menjadi indikator bahwa pelaksanaan Operasi Ketupat Toba 2026 berjalan efektif. Ini merupakan hasil sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, serta meningkatnya partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan,” kata Ferry.
Selain itu, angka kecelakaan lalu lintas juga mengalami penurunan cukup signifikan. Selama operasi berlangsung, tercatat 134 kejadian laka lantas, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 191 kejadian.
Dengan demikian, terjadi penurunan 57 kasus atau sekitar 29,8 persen.
Ferry menjelaskan bahwa pengamanan selama Operasi Ketupat tidak hanya difokuskan pada jalur mudik dan arus balik, tetapi juga mencakup pusat keramaian, objek wisata, rumah ibadah, terminal, pelabuhan, stasiun, hingga bandara yang mengalami peningkatan mobilitas masyarakat selama libur Lebaran.
“Kami mengedepankan langkah preemtif dan preventif, serta penegakan hukum secara selektif agar masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Selama masa operasi, Polda Sumut juga mencatat tingginya mobilitas masyarakat melalui berbagai moda transportasi.
Pada sektor transportasi udara, jumlah kedatangan penumpang mencapai 172.936 orang, sedangkan keberangkatan tercatat 145.023 penumpang.
Di sektor transportasi laut, tercatat 55.554 penumpang datang dan 64.589 penumpang berangkat melalui jalur penyeberangan pelabuhan.
Sementara itu, pada transportasi kereta api, jumlah kedatangan mencapai 102.638 penumpang, dengan keberangkatan sebanyak 123.020 penumpang.
Untuk angkutan bus, tercatat 4.033 kendaraan bus masuk dengan membawa 53.526 penumpang, sedangkan keberangkatan mencapai 6.121 kendaraan dengan total 58.661 penumpang.
Mobilitas masyarakat juga terlihat dari tingginya volume kendaraan yang melintas di 29 gerbang tol di wilayah Sumatera Utara. Tercatat 1.651.560 kendaraan golongan R4 masuk dan 1.620.141 kendaraan keluar.
Adapun kendaraan golongan R6 tercatat 179.234 unit masuk dan 174.752 unit keluar.
Menurut Ferry, tingginya mobilitas masyarakat tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi aparat kepolisian sehingga strategi pengamanan dilakukan secara dinamis, termasuk penerapan rekayasa lalu lintas di titik-titik rawan kemacetan.
“Arus pergerakan masyarakat selama Lebaran tahun ini cukup tinggi melalui berbagai moda transportasi. Karena itu personel kami tetap siaga untuk memastikan seluruh aktivitas masyarakat berjalan tertib, aman, dan lancar,” katanya.
Dalam Operasi Ketupat Toba 2026, Polda Sumut mengerahkan 8.002 personel Polri serta menempatkan pos pengamanan, pos pelayanan, dan pos terpadu di sejumlah titik strategis untuk mendukung kelancaran arus mudik dan balik.
Meski operasi resmi berakhir pada 25 Maret 2026, kepolisian tetap melanjutkan pengamanan melalui Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) guna mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas pasca-Lebaran.
“Walaupun Operasi Ketupat telah selesai, pengamanan tetap kami lanjutkan melalui KRYD sebagai bentuk komitmen Polri menjaga situasi tetap aman dan kondusif,” ujar Ferry. (AP/red)

































