ATAPKOTA.COM, ACEH UTARA – Enam bulan setelah banjir besar melanda Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, sejumlah warga dilaporkan masih bertahan hidup dalam keterbatasan di hunian sementara.
Salah seorang penyintas, Nurul Akla (23), mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, termasuk kebutuhan nutrisi bagi bayinya, sejak bencana merusak rumah dan sumber penghasilan warga pada November 2025 lalu.
Nurul mengatakan, sejak banjir menerjang kawasan permukiman dan lahan pertanian warga, kondisi ekonomi keluarganya semakin sulit. Suaminya disebut belum memiliki pekerjaan tetap, sementara kebun sawit, cokelat, pinang, jeruk, hingga lahan padi milik warga mengalami kerusakan akibat banjir dan material kayu yang terbawa arus.
“Setelah banjir, kami kehilangan banyak sumber penghasilan. Sampai sekarang masih berusaha bertahan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Bersama suami dan dua anaknya, Nurul kini tinggal di hunian sementara yang dibangun secara swadaya menggunakan material kayu sisa banjir dan bantuan relawan.
Meski telah berlalu enam bulan sejak bencana terjadi, sejumlah penyintas disebut masih membutuhkan dukungan pemulihan, baik dari sisi tempat tinggal, kesehatan, maupun pemulihan ekonomi keluarga.
Warga berharap adanya perhatian lanjutan dari pemerintah dan berbagai pihak agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih optimal, terutama bagi keluarga dengan anak balita dan kelompok rentan lainnya.
Selain kerusakan rumah warga, banjir besar yang terjadi akhir tahun lalu juga dilaporkan menghancurkan sebagian besar lahan perkebunan dan pertanian masyarakat di kawasan tersebut.
Kondisi itu menyebabkan banyak kepala keluarga kehilangan mata pencaharian utama sehingga berdampak pada kemampuan ekonomi rumah tangga.
Hingga kini, sebagian warga masih bertahan di hunian sementara sambil menunggu proses pemulihan dan bantuan lanjutan pascabencana. (*)

































