ATAPKOTA.COM, JAKARTA – Diskusi rutin Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia menyoroti peran generasi muda hingga efektivitas program pemerintah dalam pertemuan yang digelar pada Senin–Kamis, 13 April 2026, di Sekretariat GMRI, Jalan Ir. H. Juanda No. 4A, Jakarta Pusat.
Dalam forum tersebut, Asep Syaifullah menekankan pentingnya kekuatan spiritual dalam kehidupan sosial. Ia mengibaratkan spiritualitas sebagai energi besar yang harus digunakan secara tepat. “Spiritual itu sangat dahsyat, seperti rudal yang tidak tepat sasaran jika digunakan secara sembarangan,” ujarnya.
Diskusi bermula dari gagasan sosialisasi kitab “MA HA IS MA YA” ke tingkat internasional. Asep menilai, nilai-nilai spiritual dalam kitab tersebut relevan bagi masyarakat global yang tengah menghadapi ketidakpastian peradaban, termasuk dampak konflik di kawasan Timur Tengah.
Pembahasan kemudian berkembang pada peran generasi Z. Menurut peserta diskusi, kelompok ini dinilai memiliki potensi besar dalam menyebarkan kesadaran spiritual secara luas melalui pendekatan digital. Pandangan itu diperkuat oleh Reza B. Surianegara, Direktur Mahakarya Bhumi Hambalang, yang menilai generasi Z dapat menjadi motor percepatan gerakan berbasis nilai spiritual di tingkat global.
Sementara itu, Sri Eko Sriyanto Galgendu menyoroti pelaksanaan program pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Ia menilai sejumlah program memiliki orientasi yang berpihak pada masyarakat, namun masih menghadapi tantangan dalam aspek teknis pelaksanaan.
“Programnya sudah baik, tetapi implementasinya perlu diperbaiki agar hasilnya lebih optimal,” kata Sri Eko.
Ia mencontohkan sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Koperasi Merah Putih yang dinilai memiliki potensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, menurutnya, efektivitas program tersebut sangat bergantung pada kualitas pelaksanaan di lapangan.
Sri Eko juga menyinggung wacana pengelolaan aset nasional yang dinilai dapat memberikan manfaat lebih besar jika dikelola secara optimal oleh negara. Ia menekankan pentingnya evaluasi berkala terhadap seluruh program pemerintah dengan melibatkan masukan masyarakat.
Peserta diskusi sepakat bahwa kritik dan saran publik perlu menjadi bagian dari proses evaluasi kebijakan. Dengan demikian, program-program yang dinilai pro rakyat dapat terus disempurnakan, baik dari sisi teknis maupun dampaknya bagi masyarakat luas.
Diskusi GMRI kali ini merangkum berbagai isu, mulai dari diplomasi spiritual, peran generasi muda, hingga evaluasi program pemerintah. Seluruh peserta mendorong kolaborasi lintas elemen bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga spiritual.
Penulis : Jacob Ereste | Editor : Tim Redaksi atapkota.com






























