ATAPKOTA, JAKARTA – SETARA Institute telah merilis Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2024, yang menunjukkan bahwa ada 10 kota di Indonesia yang memiliki skor toleransi terendah. Laporan ini mengevaluasi kinerja kota-kota di Indonesia dalam mengelola keberagaman, toleransi, dan inklusi sosial.
Berikut 10 Kota dengan Skor Toleransi Terendah di Indonesia :
1. Pagar Alam dengan skor 4,381;
2. Sabang dengan skor 4,377;
3. Ternate dengan skor 4,370;
4. Makassar dengan skor 4,363;
5. Bandar Lampung dengan skor 4,357;
6. Pekanbaru dengan skor 4,320;
7. Banda Aceh dengan skor 4,202;
8. Lhokseumawe dengan skor 4,140;
9. Cilegon dengan skor 3,994;
10. Parepare dengan skor 3,945

Menurut laporan IKT 2024, penyebab skor toleransi terendah di kota-kota tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Ketiadaan fokus dan inovasi terhadap pemajuan toleransi di kota; Kurangnya visi toleransi dalam pembangunan; Kebijakan diskriminatif; Kurangnya tindakan pemerintah dan masyarakat dalam memajukan toleransi
“Kami sangat khawatir dengan kondisi toleransi di kota-kota yang memiliki skor terendah. Kami berharap pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk meningkatkan toleransi dan inklusi sosial di kota-kota tersebut,” kata Direktur SETARA Institute.
SETARA Institute dalam siaran pers, Selasa, (27/05/2025), menerbitkan rekomendasi Laporan IKT 2024. Beberapa hal yang direkomendasikan untuk meningkatkan toleransi di kota-kota Indonesia, antara lain: Presiden perlu memastikan universalitas dan linearitas upaya pemajuan toleransi; Pemerintah pusat perlu melakukan peninjauan ulang terhadap produk hukum daerah yang diskriminatif; Pemerintah pusat perlu mendorong kolaborasi antar-kota/kabupaten dalam pemajuan toleransi; Pemerintah provinsi perlu didorong untuk mengambil peran dalam orkestrasi pembangunan ekosistem toleransi; Pemerintah perlu memberikan dukungan anggaran memadai bagi FKUB dan inisiatif pemajuan toleransi-inklusi.
Laporan IKT 2024 menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan toleransi di kota-kota Indonesia.
“Kami berharap pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk meningkatkan toleransi dan inklusi sosial di kota-kota tersebut,”pungkas Direktur SETARA Institute.(And)/pr


































