ATAPKOTA.COM, BIREUEN — Pemerintah Kabupaten Bireuen bersama Palang Merah Indonesia (PMI) bergerak cepat membantu korban kebakaran rumah di Dusun Tgk Digarot, Desa Cot Geulanggang Tunong, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen. Bupati Bireuen, Mukhlis, S.T., didampingi Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bireuen, Edi Saputra, S.H., yang akrab disapa Edi Obama, menyerahkan bantuan secara langsung kepada keluarga terdampak pada Rabu, 25 Februari 2026.
Kebakaran yang diduga dipicu korsleting listrik itu tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, api menghanguskan seluruh isi rumah. Aparat setempat memperkirakan kerugian material mencapai sekitar Rp200 juta.
Mukhlis menegaskan kehadiran pemerintah bukan sekadar simbolis. Pemerintah, kata dia, berkewajiban memastikan warga yang tertimpa musibah memperoleh bantuan awal dan pendampingan.
“Musibah ini ujian bagi kita bersama. Pemerintah daerah dan PMI hadir untuk membantu meringankan beban keluarga terdampak,” ujar Mukhlis di lokasi.
PMI dan pemerintah daerah menyalurkan bantuan masa panik berupa bahan kebutuhan pokok, perlengkapan rumah tangga, serta kebutuhan mendesak lainnya. Edi Saputra menyatakan respons cepat tersebut merupakan bagian dari mandat kemanusiaan PMI dalam setiap situasi darurat.
“Dalam kondisi darurat, kemanusiaan harus menjadi prioritas. Kami memastikan bantuan awal tersalurkan secepat mungkin,” katanya.
Selain menyerahkan bantuan, Mukhlis mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran akibat instalasi listrik yang tidak sesuai standar. Ia meminta masyarakat memastikan pemasangan instalasi mengikuti ketentuan teknis, tidak membebani arus listrik secara berlebihan, dan mencabut perangkat elektronik saat tidak digunakan.
Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa risiko kebakaran permukiman masih tinggi, terutama akibat faktor kelistrikan rumah tangga. Pemerintah daerah menyatakan akan terus memperkuat edukasi pencegahan kebakaran di tingkat desa.
Di tengah kerugian material yang besar, solidaritas warga dan respons cepat lembaga kemanusiaan menjadi penopang awal pemulihan. Bantuan mungkin tidak serta-merta menggantikan seluruh kerugian, tetapi kehadiran negara dan relawan memberi pesan bahwa korban tidak menghadapi musibah ini sendirian. (red)

































