Dampak Perang Iran Meluas ke Asia, Harga Pupuk Naik dan Petani Terancam Bangkrut

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Minggu, 10 Mei 2026 - 23:11 WIB

40170 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah sawah di Ayutthaya akan dibiarkan kosong pada musim tanam mendatang.

Sebuah sawah di Ayutthaya akan dibiarkan kosong pada musim tanam mendatang.

ATAPKOTA.COM – Krisis geopolitik di Timur Tengah mulai memukul sektor pertanian Asia. Di Thailand, sejumlah petani dilaporkan memilih menghentikan musim tanam akibat lonjakan biaya produksi yang dipicu terganggunya rantai pasok global pascaperang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dilansir dari The Washington Post, petani asal Thailand tengah, Saithong Jamjai, memutuskan tidak lagi menanam padi di lahan seluas 19 hektare miliknya setelah menghitung potensi kerugian yang diperkirakan mencapai ribuan dolar AS.

Perempuan berusia 53 tahun itu menyebut kenaikan harga bahan bakar, pupuk, plastik, dan kebutuhan pertanian lain membuat biaya tanam dan panen diperkirakan mencapai 33 ribu dolar AS. Sementara hasil panen yang akan dijual pada Agustus mendatang diperkirakan hanya bernilai sekitar 22 ribu dolar AS.

“Sudah pasti rugi,” ujar Saithong kepada media tersebut.

Ia memilih membiarkan lahannya kosong di bawah sisa jerami musim panen sebelumnya. Menurutnya, kondisi pasar saat ini membuat petani sulit bertahan.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Iran disebut berdampak langsung terhadap distribusi logistik di kawasan Teluk Persia. Gangguan pengiriman barang melalui Selat Hormuz memicu lonjakan harga pupuk dunia, khususnya urea yang menjadi komponen utama peningkat hasil panen.

Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO), Dongyu Qu, dalam forum di Roma pada Kamis menyatakan perang tersebut bukan hanya krisis geopolitik, melainkan ancaman terhadap sistem pangan global.

Gangguan pasokan gas di Timur Tengah serta ketegangan jalur pelayaran disebut memperlambat distribusi urea ke berbagai negara. Situasi itu diperparah dengan pembatasan ekspor pupuk dari China dan meningkatnya permintaan global terhadap produk Rusia.

Analis CRU Group, Pranshi Goyal, menyebut sekitar 30 persen pasokan urea dunia terdampak akibat konflik tersebut. Harga urea di pasar internasional bahkan dilaporkan melonjak hingga 40 persen sejak Februari 2026.

Dampaknya mulai dirasakan di sejumlah negara Asia seperti Thailand, Filipina, Bangladesh, dan Australia. Banyak petani memilih mengurangi luas lahan tanam maupun penggunaan pupuk untuk menekan biaya produksi.

Ekonom utama FAO, Maximo Torero, memperingatkan krisis pangan dapat meluas apabila konflik berkepanjangan.

“Dampaknya saat ini paling besar di Asia, tetapi perlahan bergerak ke kawasan lain,” ujarnya.

FAO juga memperingatkan ancaman inflasi pangan global apabila distribusi pupuk belum kembali normal dalam beberapa bulan mendatang. Situasi itu dinilai berpotensi mendekati tekanan ekonomi saat pandemi COVID-19.

Selain konflik geopolitik, ancaman fenomena super El Niño tahun ini diperkirakan semakin memperburuk produksi pangan akibat cuaca panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan.

Di Thailand, pemerintah berupaya menenangkan pasar dengan menyatakan stok pupuk masih tersedia. Namun sejumlah petani di wilayah Ayutthaya dan Suphan Buri mengaku kesulitan memperoleh pupuk urea dalam beberapa pekan terakhir.

Petani lain bernama Nam Aoi mengaku kini hanya mampu mengolah 19 hektare dari total 32 hektare lahannya akibat tingginya biaya produksi.

Sebagian petani menyalahkan minimnya intervensi pemerintah, sementara lainnya menuding perusahaan pupuk mengambil keuntungan di tengah krisis. Namun Nam Aoi secara terbuka menilai perang menjadi pemicu utama kondisi tersebut.

Ia bahkan menyebut konflik yang melibatkan Benjamin Netanyahu dan Amerika Serikat telah mengganggu stabilitas kehidupan petani.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, mengakui negaranya menghadapi tantangan besar dalam memperoleh pasokan pertanian karena harus bersaing dengan negara-negara bermodal kuat.

Tekanan ekonomi juga mulai menghantam sektor ekspor beras Thailand. Timur Tengah diketahui menjadi salah satu pasar utama beras Thailand dengan kontribusi sekitar 17 persen terhadap total ekspor pada 2025.

Ketika konflik memanas, sejumlah operator pelabuhan di Bangkok dilaporkan meminta kontainer beras tujuan kawasan Teluk diturunkan kembali dari kapal. Sejak saat itu, distribusi beras ke negara-negara Teluk disebut praktis terhenti.

Kondisi tersebut memperbesar risiko utang petani. Sebagian bahkan mulai mempertimbangkan bekerja sebagai buruh harian untuk menutup kerugian hasil panen.

Aktivis pertanian Thailand, Pramote Charoensilp, mengatakan tekanan psikologis petani kini semakin berat akibat tingginya utang dan ketidakpastian ekonomi.

“Keluhan yang paling sering kami dengar adalah utang, depresi, dan rasa putus asa,” ujarnya.

Editor : AP.

Berita Terkait

Andrew T. Panjaitan Nahkodai DPC PJS Kota Pematangsiantar, Siap Perkuat Integritas dan Profesionalisme Pers
Bupati Aceh Singkil Hadiri HLM Aceh 2026, Tegaskan Komitmen Kendalikan Inflasi dan Dukung Sensus Ekonomi
Perhiptani Aceh Singkil Gelar MUSDA 2026, Fokus Tingkatkan Kompetensi Penyuluh Pertanian
Dari Danau Toba untuk Indonesia, Bupati Samosir dan Wagub Papua Selatan Perkuat Sinergi Budaya
PRSU ke-50 Hadir dengan Wajah Baru, Simak Jadwal Konser The Changcuters, Happy Asmara hingga Maliq & D’Essentials
Semarak HUT ke-436 Kota Medan di Amplas, Rico Waas Komit Benahi Infrastruktur dan Tingkatkan Kesejahteraan Warga
Ribuan Warga Padati Pesona Colorful Medan, Pagelaran 100 Kulcapi Pecahkan Rekor Dunia MURI
Bupati Simalungun Dampingi AHY Buka Sinode Besar GPI 2026, Soroti Peran Gereja Perkuat Karakter Bangsa

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 14:41 WIB

Andrew T. Panjaitan Nahkodai DPC PJS Kota Pematangsiantar, Siap Perkuat Integritas dan Profesionalisme Pers

Senin, 6 Juli 2026 - 16:57 WIB

Bupati Aceh Singkil Hadiri HLM Aceh 2026, Tegaskan Komitmen Kendalikan Inflasi dan Dukung Sensus Ekonomi

Senin, 6 Juli 2026 - 15:44 WIB

Perhiptani Aceh Singkil Gelar MUSDA 2026, Fokus Tingkatkan Kompetensi Penyuluh Pertanian

Minggu, 5 Juli 2026 - 13:55 WIB

Dari Danau Toba untuk Indonesia, Bupati Samosir dan Wagub Papua Selatan Perkuat Sinergi Budaya

Minggu, 5 Juli 2026 - 12:55 WIB

Semarak HUT ke-436 Kota Medan di Amplas, Rico Waas Komit Benahi Infrastruktur dan Tingkatkan Kesejahteraan Warga

Minggu, 5 Juli 2026 - 12:55 WIB

Ribuan Warga Padati Pesona Colorful Medan, Pagelaran 100 Kulcapi Pecahkan Rekor Dunia MURI

Minggu, 5 Juli 2026 - 12:10 WIB

Bupati Simalungun Dampingi AHY Buka Sinode Besar GPI 2026, Soroti Peran Gereja Perkuat Karakter Bangsa

Sabtu, 4 Juli 2026 - 23:40 WIB

Setelah Dilaporkan Hilang, Lansia 78 Tahun Ditemukan Meninggal di Areal PTPN IV Simalungun

Berita Terbaru