Konflik Israel-Hizbullah Memanas Lagi, Drone FPV Jadi Ancaman Baru IDF

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 00:06 WIB

40209 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para pelayat menghadiri upacara pemakaman tiga pejuang Hezbollah di Lebanon selatan bulan lalu. (Marko Djurica/Reuters)

Para pelayat menghadiri upacara pemakaman tiga pejuang Hezbollah di Lebanon selatan bulan lalu. (Marko Djurica/Reuters)

ATAPKOTA.COM – Konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas di wilayah perbatasan Lebanon selatan meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat baru diberlakukan beberapa waktu lalu.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan baru terhadap klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang pada akhir 2024 menyatakan Hezbollah telah “dihancurkan” dalam perang sebelumnya.

Namun sekitar satu setengah tahun setelah pernyataan itu, pasukan Israel Defense Forces (IDF) kembali terlibat bentrokan harian dengan kelompok bersenjata Lebanon tersebut di kawasan “zona keamanan” Lebanon selatan.

Dilansir dari The Washington Post, konflik terbaru meningkat setelah Hizbullah mulai menembakkan roket pada Maret sebagai respons terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pertempuran kini berkembang menjadi perang gerilya berkepanjangan yang sebagian besar terjadi di wilayah perbatasan Lebanon selatan yang telah ditinggalkan banyak warga sipil.

Lebanon menjadi pihak yang menanggung dampak paling besar. Lebih dari 2.700 orang dilaporkan tewas dan puluhan desa mengalami kerusakan berat akibat konflik berkepanjangan tersebut.

Sementara itu, Israel disebut telah menguasai sekitar lima persen wilayah Lebanon selatan.

Di sisi lain, Hizbullah dinilai masih mampu memberikan tekanan signifikan terhadap pasukan Israel melalui penggunaan drone peledak, termasuk drone FPV (first-person view) yang disebut terinspirasi dari perang Rusia-Ukraina.

Kelompok itu juga masih meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel utara, menyebabkan korban sipil dan militer.

Sejumlah pejabat militer Israel bahkan mengakui kemampuan militer Hizbullah yang masih tersisa tidak sesuai dengan perkiraan awal setelah perang 2024.

Komandan wilayah utara IDF, Rafi Milo, dalam percakapan yang bocor kepada publik menyebut masih adanya ancaman roket, rudal, dan drone dari Hizbullah terhadap kota-kota Israel utara.

“Ada kesenjangan antara bagaimana kami mengakhiri perang 2024 dan kenyataan bahwa Hizbullah masih ada,” ujarnya.

Menurut sejumlah sumber keamanan Lebanon dan regional, Hizbullah memanfaatkan masa jeda konflik selama sekitar 15 bulan untuk membangun kembali kekuatan dan melakukan reorganisasi internal.

Kelompok itu disebut mengurangi penggunaan komunikasi elektronik demi menghindari infiltrasi intelijen Israel dan kembali menggunakan sistem kurir manusia.

Selain itu, jalur penyelundupan senjata baru dilaporkan dibuka, termasuk melalui Suriah pascarevolusi.

Seorang pejabat militer Israel mengatakan Hizbullah kini kembali menggunakan pola perang gerilya klasik dengan strategi serangan cepat dan mobilitas tinggi.

“Hizbullah kembali seperti dulu, menyerang ketika ada kesempatan,” katanya.

Menurut sumber keamanan dan intelijen Israel, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran juga mengambil peran lebih besar dalam membantu restrukturisasi Hizbullah pascaperang.

Iran disebut memperkuat pengaruhnya terhadap sistem persenjataan roket dan rudal Hizbullah dalam dua tahun terakhir.

Selain itu, Hizbullah diketahui meningkatkan produksi drone FPV dalam negeri untuk menghadapi konflik baru dengan Israel.

Video serangan drone FPV bahkan kini menjadi bagian utama propaganda media sosial Hizbullah melalui kanal Telegram resmi mereka.

Meski demikian, para analis menilai kemampuan Hizbullah saat ini masih lebih terbatas dibanding kelompok bersenjata yang bertempur di Ukraina.

Konflik sebelumnya juga disebut menyebabkan kerugian besar bagi Hizbullah. Operasi yang dikenal sebagai “Operation Grim Beeper” dilaporkan menewaskan atau melukai ratusan anggota kelompok tersebut melalui ledakan perangkat komunikasi jarak jauh.

Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dan sejumlah komandan senior lainnya juga dilaporkan tewas dalam operasi Israel.

Intelijen Israel memperkirakan hanya sekitar 10 persen dari total persediaan sekitar 150 ribu proyektil Hizbullah sebelum perang 2024 yang masih tersisa.

Meski demikian, kelompok itu masih mampu menembakkan sekitar 100 roket per hari ke wilayah Israel, meski jumlah tersebut jauh di bawah simulasi perang Israel tahun 2022 yang memperkirakan Hizbullah dapat meluncurkan hingga 1.500 roket per hari.

Israel juga terus menargetkan pasukan elite Radwan Hizbullah yang bertugas melakukan operasi lintas perbatasan.

Serangan udara Israel masih berlangsung di Lebanon selatan dan beberapa kali menyasar Beirut serta Lembah Bekaa.

Pada Rabu lalu, serangan udara Israel di Beirut dilaporkan menargetkan pemimpin baru pasukan Radwan.

Di tengah konflik tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut meminta Israel mengurangi intensitas operasi militernya sebagai bagian dari negosiasi regional yang lebih luas terkait Iran.

Kebijakan itu memicu kekecewaan sebagian kalangan politik dan militer Israel yang sebelumnya berharap perang dapat mengakhiri ancaman Hizbullah secara permanen.

Sejumlah analis Israel menilai keberhasilan militer Israel di lapangan belum menghasilkan kemenangan strategis jangka panjang.

Peneliti Washington Institute, Assaf Orion, menyebut keberhasilan Israel menghancurkan sebagian arsenal rudal Hizbullah belum cukup menjamin keamanan wilayah utara Israel.

“Tujuan utama perang bagi Israel adalah memulangkan warga di utara dengan aman. Pertanyaannya, apakah mereka benar-benar aman?” ujar Orion.

Sumber : FT

Editor : AP

Berita Terkait

Peresmian Aula SMP Bintang Timur, Pemko Pematangsiantar Tekankan Pendidikan Berkarakter
Hadiri Musda XI Golkar Asahan, Bupati Taufik Harapkan Sinergi Pembangunan
Bupati Asahan Sambut Safari Anak Gaza, Serahkan Bantuan Uang Tunai
Sabulan Diusulkan Jadi Kampung Kreatif, Pemkab Samosir Bidik Pengembangan Wisata dan UMKM
Polres Simalungun Salurkan Sembako untuk 70 Warga, Tampung Keluhan soal Narkoba dan Lapangan Kerja
Polsek Dolok Batu Nanggar dan SMK Al Washliyah 7 Serbalawan Teken MoU Cegah Bullying
ISW Adukan Dugaan Ijazah Chairuddin Lubis ke Bareskrim Polri
Wesly Silalahi Dukung Penguatan Literasi Ekonomi Syariah di Pematangsiantar

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Peresmian Aula SMP Bintang Timur, Pemko Pematangsiantar Tekankan Pendidikan Berkarakter

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:38 WIB

Hadiri Musda XI Golkar Asahan, Bupati Taufik Harapkan Sinergi Pembangunan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:34 WIB

Bupati Asahan Sambut Safari Anak Gaza, Serahkan Bantuan Uang Tunai

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 07:27 WIB

Sabulan Diusulkan Jadi Kampung Kreatif, Pemkab Samosir Bidik Pengembangan Wisata dan UMKM

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 06:50 WIB

Polres Simalungun Salurkan Sembako untuk 70 Warga, Tampung Keluhan soal Narkoba dan Lapangan Kerja

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:37 WIB

ISW Adukan Dugaan Ijazah Chairuddin Lubis ke Bareskrim Polri

Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:20 WIB

Wesly Silalahi Dukung Penguatan Literasi Ekonomi Syariah di Pematangsiantar

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:23 WIB

Bobby Nasution Tawarkan Potensi Investasi Sumut ke Jepang, Soroti SDM dan Hasil Laut Nias

Berita Terbaru