ATAPKOTA.COM – Perjanjian kerja sama strategis selama 25 tahun antara Iran dan Tiongkok, yang ditandatangani pada 2021, semula dipandang sebagai terobosan besar dalam geopolitik Eurasia. Kesepakatan ini dipromosikan sebagai jalan keluar Iran dari isolasi internasional sekaligus peluang Tiongkok memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah. Namun, empat tahun setelah ditandatangani, perjanjian tersebut lebih banyak melahirkan kekecewaan ketimbang pencapaian.
Iran berharap Tiongkok akan menanamkan investasi besar di sektor energi, infrastruktur, dan teknologi. Selain itu, mekanisme perbankan independen yang tidak bergantung pada dolar atau euro diyakini bisa membantu Iran menghadapi sanksi Amerika Serikat (AS). Para pemimpin di Teheran menggambarkan kesepakatan ini sebagai “jalan keluar emas” dari tekanan ekonomi Barat.
Di sisi lain, Tiongkok melihat Iran sebagai mitra strategis dalam inisiatif Belt and Road Initiative (BRI). Letak geografis Iran yang strategis, kaya energi, serta hubungannya dengan Rusia, seharusnya menjadikan Iran mitra ideal dalam memperluas jejaring ekonomi dan geopolitik Beijing.
Namun, kenyataan berbicara lain. Investasi yang dijanjikan tidak kunjung masuk, proyek minyak dan gas banyak yang mangkrak, dan mekanisme perbankan independen tidak pernah terbentuk. Perdagangan tetap bergantung pada jalur perantara, sementara perusahaan Tiongkok lebih memilih menjual peralatan ketimbang menanam modal langsung.
Dari perspektif Tiongkok, faktor utama yang membuat mereka berhati-hati adalah lingkungan investasi Iran yang tidak stabil, risiko sanksi sekunder dari AS, serta tata kelola ekonomi Iran yang dianggap tidak transparan. Hal ini menjadikan Beijing memilih sikap pragmatis: membeli minyak Iran dengan harga murah, tetapi menghindari keterlibatan dalam proyek besar yang berisiko.
Kegagalan implementasi perjanjian memperparah kondisi domestik Iran. Inflasi melonjak, biaya hidup meningkat drastis, dan krisis energi semakin parah. Presiden Iran bahkan terpaksa meminta maaf atas pemadaman listrik dan gas yang berulang.
Masyarakat Iran yang semula menyambut optimisme kini justru melihat perjanjian itu sebagai simbol kegagalan diplomasi. Kepercayaan publik terhadap janji pemerintah merosot, sementara jurang antara retorika politik dan realitas ekonomi semakin lebar.
Secara geopolitik, kegagalan perjanjian ini menunjukkan keterbatasan strategi “Look East Policy” Iran. Teheran berusaha keluar dari isolasi Barat dengan memperkuat hubungan dengan Tiongkok dan Rusia. Namun, baik Beijing maupun Moskow cenderung bersikap oportunis: mereka mendukung Iran hanya sejauh menguntungkan, tanpa komitmen investasi jangka panjang.
Bagi Tiongkok, hubungan dengan AS dan negara-negara Teluk lebih penting daripada risiko mendukung Iran secara penuh. Beijing tetap menjadi pembeli utama minyak Iran, tetapi berhati-hati agar tidak mengorbankan hubungan dengan Arab Saudi atau Uni Emirat Arab yang juga mitra strategisnya di kawasan.
Kekecewaan terhadap Tiongkok mendorong Iran mencari mitra ekonomi lain. Perdagangan dengan Kazakhstan mencapai rekor baru, sementara perjanjian dengan Uni Eropa untuk menghapus tarif produk industri menunjukkan arah diversifikasi. Namun, langkah ini masih terbatas dan tidak cukup untuk menutupi kegagalan investasi dari Tiongkok.
Selain itu, ketergantungan Iran pada impor pangan dan bahan pokok tetap menjadi masalah besar. Harga daging impor dari Brasil dan Australia terus naik, memperburuk beban rumah tangga.
Perjanjian 25 tahun Iran–Tiongkok kini lebih banyak dipandang sebagai simbol kekecewaan dan ketergantungan daripada pencapaian strategis. Dari perspektif geopolitik, situasi ini menegaskan posisi Iran sebagai negara yang terjebak antara sanksi Barat, sikap pragmatis Tiongkok, dan tekanan domestik yang semakin berat.
Jika tidak ada reformasi struktural yang serius—baik dalam sistem ekonomi maupun tata kelola politik—Iran berisiko semakin terpinggirkan dalam arsitektur geopolitik global. Perjanjian dengan Tiongkok, yang dulu digadang-gadang sebagai batu loncatan strategis, justru bisa dikenang sebagai pelajaran pahit tentang bahaya menggantungkan harapan pada satu mitra besar tanpa dasar kepercayaan dan kepastian.
Sumber : JCPA | Editor : Redaksi atapkota.
































