ATAPKOTA.COM, JAKARTA – Acara diskusi santai bersama komunitas menghadirkan Mayor Jenderal TNI Dr. Rido Hermawan, M.Sc., Deputi Bidang Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan Lemhannas, pada Sabtu malam, 13 September 2025, di Cilandak, Jakarta. Obrolan hangat ini mengupas isu mutakhir negeri, mulai dari fenomena post power syndrome hingga kegaduhan politik yang bahkan dikaitkan dengan kondisi di Nepal dan Prancis.
Diskusi semakin menarik saat pembahasan masuk ke ranah spiritual Sunda dan Jawa. Simbol siklus kala tida dan kala bendu dikupas hingga makna “jangka waring” serta asal-usul manusia. Rido menegaskan filosofi “nrimo” sebagai sikap ikhlas menerima takdir hidup.
“Karena itu, manusia harus mampu ikhlas dan pasrah menghadapi apapun yang menimpanya,” ujarnya.
Menurut Rido, hidup adalah siklus dari ketiadaan menjadi ada lalu kembali pada ketiadaan. Spiritualitas itulah yang melahirkan ribuan sekte dan agama.
Turut hadir Sri Eko Sriyanto Galgendu bersama GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) serta komunitas Kang Deden dari Bandung. Mereka membahas tradisi Tudong para Bhiku Thailand yang menempuh perjalanan tiga bulan hingga tiba di Indonesia. Namun, kehadiran mereka dinilai minim sambutan dari umat Buddha lokal.
Rido menilai tradisi itu bukti tingginya spiritualitas bangsa Timur.
“Laku spiritual bukan soal materi, melainkan kebahagiaan rohani,” jelasnya. Ia menyinggung perbedaan Barat yang lebih sibuk mencari materi demi bertahan menghadapi musim dingin.
Sri Eko kemudian menyinggung rencana peluncuran Kitab Ma Ha Ismaya, hasil doa selama 20 jam non-stop untuk tokoh bangsa. Rido menilai Indonesia membutuhkan pemimpin spiritual kebangsaan yang cerdas, bukan hanya politisi. Menurutnya, kerusakan bangsa tidak bisa diatasi oleh politisi saja, melainkan sosok berkarakter spiritual mumpuni.
Rido menegaskan, Tuhan hanya bisa ditemukan dalam diri manusia sendiri.
“Tuhan itu lebih dekat daripada urat nadi kita,” tegasnya.
Diskusi berlanjut ke kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Rido menyoroti gaya Prabowo yang terlalu sibuk merangkul lawan politik, sehingga cenderung melupakan pendukung loyalnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga mendapat sorotan. Menurut Rido, program itu sebaiknya dikelola langsung masyarakat dengan bahan pangan lokal, bukan dikendalikan pemerintah.
“Jika hanya pemerintah yang menjalankan, kebocoran pasti terjadi dan masyarakat kecil justru tertekan,” katanya.
Topik diplomasi spiritual ikut dibahas sebagai agenda GMRI. Program ini mendorong kesadaran spiritual global di tengah lompatan teknologi modern. Menurut Rido, Indonesia harus serius agar tidak tergilas zaman. Ia juga menyinggung polemik amandemen UUD 1945. Menurutnya, perubahan hanya perlu pada pasal krusial, bukan seluruhnya, agar rakyat tidak jadi korban.
Akhir diskusi menegaskan bahwa dunia kini terjebak dilema material versus spiritual.
“Hanya manusia berkesadaran ikhlas yang mampu meredam egonya dan menjaga keterikatan dengan sesama,” pungkas Rido. (Jacob Ernest/red)

































