ATAPKOTA.COM, BANTEN – Aktivis Jacob Ereste menegaskan bahwa reformasi Polri tidak boleh berhenti pada pembenahan struktur kelembagaan saja. Menurutnya, pembenahan yang lebih mendesak adalah reformasi kultur yang menyangkut sikap, etika, dan perilaku seluruh personel Polri, dari jajaran tinggi hingga prajurit di lapangan.
“Yang bersentuhan langsung dengan rakyat adalah anggota Polri di lapangan. Baik dan buruknya Polri di mata masyarakat ditentukan oleh cara mereka berinteraksi,” ujar Jacob Ereste.
Jacob menekankan bahwa fungsi Polri sebagai pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat tidak boleh berhenti sebagai slogan. Implementasi nyata sangat diperlukan. Ia mengkritik pola lama yang cenderung mencari kesalahan masyarakat, padahal seharusnya Polri berfokus pada pencegahan dan penyuluhan.
“Kebiasaan membiarkan pelanggaran lalu tiba-tiba melakukan penindakan harus dihentikan. Tugas polisi bukan menjebak, tapi mencegah,” tegasnya.
Data Atlantika Institut Nusantara mencatat Polri memiliki 464.248 personel. Namun kebutuhan ideal menurut Daftar Susunan Personil (DSP) mencapai 824.226. Artinya, Polri masih kekurangan hampir 460 ribu personel.
Menurut Jacob, kondisi ini ironis. Dengan jumlah yang ada, Polri semestinya sudah bisa memberi rasa aman dan nyaman. Namun faktanya, citra polisi di masyarakat masih sering dipandang sebagai momok.
Jacob menilai, solusi penting adalah perbaikan rekrutmen dengan seleksi ketat dan pendidikan yang serius.
“Polri membutuhkan personel berintegritas, beretika, dan memiliki jiwa pengabdian. Yang tidak memenuhi kriteria moral dan akhlak mulia harus disingkirkan,” tegasnya.
Ia menegaskan, Tim Reformasi Polri yang akan dibentuk tidak boleh sekadar formalitas. Harus ada langkah konkret untuk memulihkan integritas dan kepercayaan publik.
Setidaknya, kata Jacob, ada tiga agenda utama:
- Penegakan hukum tanpa pandang bulu. Termasuk penghapusan impunitas terhadap pelanggaran internal Polri.
- Reformasi kultural dan etika. Menggeser paradigma penguasa menjadi pelayan masyarakat.
- Perbaikan sistem rekrutmen. Hanya memilih calon polisi yang memiliki dedikasi dan integritas tinggi.
Jacob juga menyoroti kecenderungan militeristik dalam tubuh Polri. Menurutnya, pendekatan represif bersenjata terhadap rakyat sipil harus dikurangi.
“Polri bukan tentara. Dalam menghadapi aspirasi rakyat, polisi harus mengedepankan pendekatan humanis, bukan intimidasi bersenjata,” pungkasnya.
Bagi Jacob Ereste, reformasi Polri hanya akan berhasil bila menyentuh akar masalah: kultur, etika, dan integritas. Tanpa itu, upaya perubahan hanya akan sia-sia dan kembali menggerus kepercayaan rakyat.
- Penulis : Jacob Ereste
- Editor : Redaksi atapkota



































