ATAPKOTA.COM – Pertengkaran dan kebencian adalah dua racun halus yang perlahan mematikan kasih dalam hati manusia. Awalnya mungkin hanya sebuah perbedaan kecil, namun jika dibiarkan, ia tumbuh menjadi tembok tebal yang memisahkan kita dari damai Tuhan. Saat hati dipenuhi amarah, suara Tuhan menjadi samar. Ketika kebencian menguasai jiwa, kasih tak lagi punya ruang untuk berdiam.
“Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, berkatilah, karena untuk itulah kamu dipanggil supaya kamu sendiri mendapat berkat.” — 1 Petrus 3:9
Tuhan tidak pernah berdiam di hati yang dipenuhi dendam. Ia tinggal dalam hati yang mau mengampuni, meski terluka. Karena kasih tidak bisa hidup berdampingan dengan kebencian.
Itulah sebabnya Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). Mengasihi musuh bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan surgawi yang hanya dimiliki mereka yang mengenal hati Kristus.
Setiap kali kita memilih bertengkar, kita kehilangan damai. Setiap kali kita menyimpan dendam, kita menutup pintu berkat.
Tuhan tidak memanggil kita untuk memenangkan perdebatan, melainkan memenangkan hati. Ia tidak menilai seberapa benar kata-katamu, tetapi seberapa dalam kasihmu di tengah ketidakadilan.
Kebencian mungkin terasa membenarkan diri, tetapi pada akhirnya hanya meninggalkan kehampaan.
Sebaliknya, ketika kita melepaskan/meninggalkan amarah, Tuhan bekerja memulihkan luka yang tak terlihat. Mengampuni bukan berarti melupakan, tetapi menyerahkan keadilan kepada Tuhan yang Maha adil.
Hari ini, jika ada nama yang masih menyesakkan hatimu, bawalah ke hadapan Tuhan. Sebut namanya dalam doa, bukan untuk mengutuk, melainkan untuk memberkati. Sebab ketika engkau berdoa bagi mereka yang menyakiti, engkau sedang membebaskan dirimu sendiri dari belenggu kebencian.
Biarlah damai Kristus menggantikan amarahmu, agar hidupmu kembali selaras dengan kasih-Nya. Karena hanya hati yang damai yang bisa mendengar suara Tuhan dengan jernih.
Oleh : Redaksi atapkota.

































