Oleh: Jacob Ereste
Banten, 11 Oktober 2025
ATAPKOTA.COM – Kesadaran dan pemahaman spiritual seharusnya diperkenalkan sejak dini, bahkan sebelum anak-anak memasuki pendidikan formal. Pendidikan di Indonesia, sayangnya, masih terjebak dalam paradigma yang hanya mengejar kecerdasan intelektual, namun abai terhadap kecerdasan spiritual. Padahal, kecerdasan intelektual hanya mengasah kemampuan berpikir, bukan membentuk kebijaksanaan batin yang menumbuhkan kemanusiaan sejati.
Seiring waktu, orientasi manusia memang bergeser. Jika pada masa primitif keunggulan fisik menjadi ukuran utama, kini manusia dituntut memiliki kecerdasan spiritual agar nilai kemanusiaan tidak terdegradasi oleh kemajuan teknologi dan materialisme.
Karena itu, pendidikan generasi muda harus menekankan olah jiwa, bukan semata olah pikir atau raga. Sekolah semestinya tidak hanya mencetak manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga mendalam secara spiritual. Etika, moral, dan akhlak mulia harus menjadi fondasi pendidikan agar manusia masa depan mampu membangun peradaban yang harmonis dengan alam dan selaras dengan tuntunan ilahi.
Manusia, sebagai khalifatullah di bumi, memiliki keistimewaan dibanding makhluk lain. Nilai kemuliaan itu hanya dapat dipertahankan melalui pembinaan moral dan akhlak yang berakar pada spiritualitas, bukan sekadar kepintaran rasional. Maka, pendidikan budi pekerti perlu kembali menjadi dasar pembelajaran nasional. Tradisi luhur dan budaya adiluhung bangsa harus dijadikan acuan dalam bertata krama, bertutur, dan bersikap.
Namun kenyataan hari ini menunjukkan hal sebaliknya. Sistem pendidikan nasional telah tercemar oleh ideologi kapitalistik dan materialistik. Sekolah lebih menekankan hasil, bukan nilai. Kompetisi mengalahkan kolaborasi, sementara nilai kemanusiaan tersingkir oleh kepentingan pasar bebas. Akibatnya, keberhasilan diukur dari harta, bukan kejujuran; dari jabatan, bukan integritas.
Ironisnya, praktik korupsi dan sogok menyogok bahkan menjalar ke dunia pendidikan. Posisi rektor, dosen, hingga penerimaan mahasiswa kerap ditentukan oleh kekuasaan dan uang, bukan kualitas. Fenomena ijazah palsu dan gelar tanpa makna akademik menjadi bukti bahwa pendidikan telah kehilangan arah moralnya.
Dalam kondisi ini, kebangkitan spiritual menjadi kebutuhan mendesak. Gerakan kesadaran spiritual harus dimulai dari dunia pendidikan agar generasi mendatang tidak lagi menilai kesuksesan dari kekayaan, tetapi dari kejujuran, kasih, dan kebermanfaatan. Pendidikan spiritual menjadi jalan menuju pembebasan lahir dan batin, membangun manusia merdeka secara utuh—berakal sehat, berhati jernih, dan berjiwa luhur.
Gerakan ini harus dimulai sekarang. Sebab, dua puluh tahun ke depan, anak-anak yang kita didik hari ini akan menjadi pewaris bangsa pada usia seabad Indonesia merdeka. Mereka harus siap memimpin negeri dengan akal yang tercerahkan dan hati yang bersih. Hanya dengan spiritualitas yang kuat, bangsa ini dapat mengatasi kemiskinan, kebodohan, dan kebusukan moral yang diwariskan sistem materialistik hari ini.
Editor : Redaksi atapkota.

































