ATAPKOTA.COM, TAPSEL – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, tak hanya merusak infrastruktur dan memutus akses jalan, tetapi juga mengancam keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah terdampak. Di tengah keterbatasan tersebut, personel Satuan Brimob Polda Sumatera Utara turun langsung memastikan proses belajar tetap berjalan, Selasa, 3 Januari 2026.
Melalui Posko Utama Garoga, personel Brimob melakukan penjemputan dan pengantaran anak-anak sekolah yang terdampak bencana. Langkah ini diambil menyusul lumpuhnya angkutan umum akibat kerusakan jalan dan kondisi medan yang belum sepenuhnya pulih pascabencana.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Briptu Hadi Lingga, personel Posko Utama Garoga. Bersama rekan-rekannya, ia menjemput anak-anak dari rumah masing-masing dan mengantarkan mereka hingga ke sekolah tujuan. Upaya ini menjadi solusi sementara agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti di tengah masa tanggap darurat dan pemulihan.
“Anak-anak tetap harus sekolah. Bencana tidak boleh memutus masa depan mereka,” ujar salah seorang personel Brimob di lokasi.
Respons cepat aparat kepolisian ini mendapat sambutan positif dari orang tua siswa dan pihak sekolah. Mereka mengaku terbantu, mengingat belum adanya kepastian kapan akses transportasi umum dapat kembali beroperasi normal.
Namun, di balik aksi kemanusiaan tersebut, muncul pertanyaan lebih besar terkait kesiapsiagaan negara dalam menjamin hak pendidikan anak di wilayah rawan bencana. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, negara berkewajiban memastikan layanan pendidikan tetap berjalan, termasuk melalui penyediaan akses darurat dan sarana pendukung.
Fakta bahwa aparat keamanan harus turun langsung mengantar anak-anak ke sekolah menunjukkan masih rapuhnya sistem mitigasi dan respons lintas sektor, khususnya koordinasi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan instansi kebencanaan. Tanpa perbaikan struktural, kondisi serupa berpotensi terulang setiap kali bencana melanda wilayah terpencil.
Meski demikian, hingga kegiatan selesai, seluruh anak-anak sekolah di Desa Garoga berhasil diantar ke sekolah masing-masing dengan selamat. Kehadiran Brimob di tengah masyarakat terdampak menjadi penyangga sementara di tengah absennya solusi permanen negara dalam menjamin akses pendidikan pascabencana. (AP/red)



































