Kaya Sumber Daya, Rakyat Masih Miskin: Pesan Keras Prabowo di Rakornas

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Selasa, 3 Februari 2026 - 09:27 WIB

40202 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan taklimatnya pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada Senin, 2 Februari 2026. Foto: BPMI Setpres

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan taklimatnya pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada Senin, 2 Februari 2026. Foto: BPMI Setpres

ATAPKOTA.COM – Presiden Prabowo Subianto mengakui bahwa Indonesia masih bergulat dengan persoalan mendasar: kemiskinan dan kesenjangan kesejahteraan. Pengakuan itu disampaikan di hadapan jajaran pemerintah pusat dan daerah dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin, 2 Februari 2026.

Di tengah klaim besarnya potensi kekayaan alam nasional, Prabowo menegaskan bahwa realitas sosial tidak boleh disangkal. Menurutnya, masih banyak warga yang hidup dalam keterbatasan, dan kondisi tersebut harus dihadapi secara jujur oleh negara dan para pemimpinnya.

“Kita harus paham bahwa kita masih menghadapi kesulitan. Kita masih menghadapi tantangan. Kita masih menghadapi kekurangan. Kita tahu bahwa rakyat kita masih banyak yang mengalami kesulitan hidup,” ujar Prabowo.

Presiden menekankan bahwa pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara parsial atau sektoral. Ia mengajak seluruh elemen bangsa—tanpa memandang latar belakang politik, golongan, atau kepentingan—untuk bersatu dan bekerja bersama. Bagi Prabowo, kemiskinan bukan sekadar persoalan statistik, melainkan kegagalan kolektif yang menuntut kepemimpinan kuat dan keberanian mengambil keputusan.

“Kita harus berjuang bersama-sama. Semua unsur, semua tingkatan, semua latar belakang, semua partai mana pun. Kita harus bersatu dan berjuang menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia. Kita tidak boleh menyerah, kita tidak boleh takut dengan kesulitan,” tegasnya.

Dalam arahannya, Prabowo secara terbuka mengingatkan tanggung jawab moral para pemimpin dan elite di semua sektor—politik, birokrasi, dan ekonomi. Ia menekankan bahwa kekayaan alam dan sumber daya strategis bangsa tidak boleh dikelola untuk kepentingan sempit, melainkan harus benar-benar diarahkan untuk kesejahteraan rakyat.

“Mari kita semua sebagai pemimpin membulatkan tekad, membenahi diri dan lingkungan kita. Mari kita bertekad untuk menyelamatkan, menjaga, dan mengelola kekayaan alam kita untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat,” ujarnya.

Pernyataan ini sekaligus menyinggung persoalan laten tata kelola sumber daya alam yang selama ini kerap dikritik publik—mulai dari ketimpangan distribusi manfaat, konflik agraria, hingga praktik ekonomi ekstraktif yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat sekitar.

Prabowo juga menegaskan pentingnya persatuan nasional pasca-kontestasi politik. Menurutnya, perbedaan pilihan dalam demokrasi adalah hal yang wajar, tetapi tidak boleh berujung pada fragmentasi sosial dan politik yang menghambat kerja pemerintahan.

“Kalah menang itu biasa, karena kita mengabdi untuk bangsa dan rakyat Indonesia,” kata Prabowo.

Menutup taklimatnya, Presiden menegaskan komitmennya untuk memimpin secara inklusif. Ia menyatakan tidak akan membedakan daerah atau kelompok berdasarkan hasil pemilihan politik.

“Tugas saya, kewajiban saya adalah seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Namun, di balik seruan persatuan dan pengabdian tersebut, tantangan nyata masih membentang: bagaimana memastikan kebijakan pengentasan kemiskinan dijalankan secara konsisten, transparan, dan berkelanjutan, serta tidak terjebak pada retorika persatuan tanpa pembenahan struktural yang nyata. (Edo/red)

Berita Terkait

PLN Pematangsiantar Perkuat Sinergi dengan Kapolres untuk Jaga Keamanan dan Keandalan Listrik
Ramses Walmanto Manurung Tampung Keluhan Warga soal Sampah dan Lampu Jalan Mati
Rakernas III PJS Digelar di Batam 4–5 November 2026, Bahas Pengesahan Lima Pedoman Organisasi
Borong Prestasi di Lima Kategori, TP PKK Asahan Jadi Juara Umum HKG Sumut
Perjuangkan Kesetaraan HPN, Firdaus Diberhentikan PWI; Makali Kumar Soroti Monopoli Penyelenggaraan
PN Bengkulu Vonis Yayan 12 Tahun Penjara dalam Perkara Persetubuhan Anak Menggunakan Sajam
Dana 67 Juta Belum Kembali, Warga Laporkan Oknum Polisi ke Polda Bengkulu
Panitia Pemilihan Rektor USI: Suara Senat Bukan Penentu Akhir, 3 Calon Rektor USI Ikuti Seluruh Tahapan Seleksi

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:18 WIB

PLN Pematangsiantar Perkuat Sinergi dengan Kapolres untuk Jaga Keamanan dan Keandalan Listrik

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Ramses Walmanto Manurung Tampung Keluhan Warga soal Sampah dan Lampu Jalan Mati

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:32 WIB

Rakernas III PJS Digelar di Batam 4–5 November 2026, Bahas Pengesahan Lima Pedoman Organisasi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:58 WIB

Borong Prestasi di Lima Kategori, TP PKK Asahan Jadi Juara Umum HKG Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:54 WIB

Perjuangkan Kesetaraan HPN, Firdaus Diberhentikan PWI; Makali Kumar Soroti Monopoli Penyelenggaraan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 23:04 WIB

Dana 67 Juta Belum Kembali, Warga Laporkan Oknum Polisi ke Polda Bengkulu

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:55 WIB

Panitia Pemilihan Rektor USI: Suara Senat Bukan Penentu Akhir, 3 Calon Rektor USI Ikuti Seluruh Tahapan Seleksi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 22:39 WIB

Hidayati Laporkan Ratnawati ke Polda Bengkulu atas Dugaan Pemalsuan Dokumen Tanah

Berita Terbaru