ATAPKOTA.COM, VLADIVOSTOK – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari sejauh mana hasil pembangunan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Penegasan itu disampaikan Prabowo saat menjadi tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Federasi Rusia, pada Kamis, 3 September 2026.
Forum yang berlangsung pada 1–4 September 2026 tersebut mengusung tema “The Far East: Development for the Benefit of People”. Dalam pidatonya, Prabowo mengaitkan tema tersebut dengan arah pembangunan yang menurutnya harus memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
Menurut Presiden, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Pemerintah, kata dia, harus memastikan hasil pembangunan mampu menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
“Pembangunan tidak bisa hanya menguntungkan segelintir orang. Pembangunan harus diukur dari meja makan keluarga biasa: apakah anak-anak mendapatkan makanan bergizi, apakah petani dapat memperoleh pupuk dan menjual hasilnya dengan harga yang adil, apakah keluarga dapat tinggal di rumah yang layak, apakah anak-anak muda mendapatkan pekerjaan produktif, dan apakah listrik menjangkau setiap rumah di setiap desa,” ujar Prabowo.
Prabowo mengatakan filosofi tersebut menjadi landasan berbagai agenda pembangunan Indonesia. Pemerintah, menurutnya, mendorong penyediaan program Makan Bergizi Gratis, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta percepatan hilirisasi industri.
Menurut Prabowo, hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan pengolahan sumber daya alam, tetapi juga harus menciptakan industri, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan membuka lapangan pekerjaan di dalam negeri.
“Inilah mengapa kita mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, bukan pertumbuhan hanya demi pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang dapat mengangkat jutaan rakyat keluar dari kemiskinan menuju kehidupan yang bermartabat,” tegasnya.
Presiden menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhirnya harus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Dalam forum tersebut, Prabowo juga memaparkan peluang kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Rusia. Ia menilai karakter ekonomi kedua negara yang berbeda dapat menjadi kekuatan karena memiliki potensi untuk saling melengkapi.
Rusia, menurut Prabowo, memiliki keunggulan di sektor gandum, pupuk, energi, ilmu pengetahuan, dan teknologi rekayasa. Sementara Indonesia memiliki sejumlah komoditas dan sektor potensial, mulai dari kelapa sawit, perikanan, kopi, karet, tekstil, furnitur, hingga pasar ASEAN dan tenaga kerja muda.
Presiden menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik memberikan peluang strategis untuk memperkuat hubungan dengan Rusia Timur Jauh dan kawasan Eurasia.
Menurutnya, jarak geografis tidak seharusnya menjadi penghalang bagi kedua negara dalam membangun kerja sama ekonomi.
“Samudra Pasifik tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik menghubungkan kita. Ia bukanlah tembok di antara kita. Ia harus menjadi jalan raya antara dua perekonomian kita,” kata Prabowo.
Pesan tersebut menjadi salah satu penegasan Prabowo mengenai arah diplomasi ekonomi Indonesia, yakni menjadikan kawasan Pasifik sebagai ruang untuk memperkuat konektivitas, perdagangan, dan kerja sama.
Prabowo menyebut hubungan perdagangan Indonesia dan Rusia terus menunjukkan perkembangan. Berdasarkan data yang disampaikan dalam pidatonya, nilai perdagangan bilateral kedua negara pada 2025 mendekati 5 miliar dolar AS.
Nilai tersebut disebut meningkat 21,7 persen dibandingkan 2024 dan 33,7 persen dibandingkan 2023.
Namun, Prabowo menilai capaian tersebut belum menjadi batas tertinggi hubungan ekonomi kedua negara.
“Capaian ini baru permulaan, bukan batas tertinggi,” ujar Prabowo.
Presiden mendorong Indonesia dan Rusia menetapkan sasaran yang lebih ambisius, termasuk menggandakan nilai perdagangan bilateral dalam periode peninjauan pertama Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–Eurasian Economic Union (EAEU).
Menurutnya, peningkatan perdagangan dapat didorong oleh karakter ekonomi yang saling melengkapi, penguatan hubungan antarpelaku usaha, serta implementasi perjanjian perdagangan yang sedang diproses.
Prabowo menegaskan bahwa kerja sama dan perjanjian ekonomi harus diterjemahkan menjadi aktivitas perdagangan yang konkret.
Ia menyebut Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–EAEU yang ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025 mencakup penghapusan atau pengurangan bea terhadap 11.882 pos tarif, atau lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan.
Presiden menyampaikan Indonesia telah menyelesaikan sejumlah proses internal yang diperlukan terkait perjanjian tersebut dan mendorong seluruh negara anggota EAEU menyelesaikan prosedur masing-masing.
“Indonesia ingin perjanjian ini berlaku dan digunakan sesegera mungkin setelah pertukaran notifikasi memungkinkan. Saya mengajak setiap negara anggota EAEU untuk menyelesaikan prosedur internalnya sehingga kita dapat segera memanfaatkan perjanjian ini,” tutur Presiden.
Prabowo kemudian meminta delegasi bisnis Indonesia yang hadir dalam forum tersebut mempersiapkan langkah konkret, termasuk mencari mitra dagang, memastikan jalur logistik, serta menyiapkan mekanisme transaksi.
Ia menekankan bahwa kesiapan dunia usaha menjadi bagian penting agar peluang perdagangan dapat segera dimanfaatkan setelah perjanjian tersebut berlaku.
“Forum ini harus menjadi marketplace dari perjanjian tersebut,” pungkas Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo turut menyinggung pengalaman ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan melalui konsultasi dan kerja sama.
Menurut Presiden, pilihan untuk mengedepankan dialog dibandingkan konfrontasi telah memberikan ruang bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi, perdagangan, pendidikan, dan kehidupan masyarakat di kawasan.
Indonesia, kata Prabowo, membuka peluang bagi Rusia dan negara-negara anggota EAEU untuk memperluas kerja sama dengan Asia Tenggara.
Kehadiran Prabowo sebagai tamu kehormatan utama dalam EEF ke-11 juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat komunikasi ekonomi dengan Rusia dan negara-negara di kawasan Eurasia.
Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin sebelumnya membuka forum tersebut dan menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya kawasan Asia-Pasifik sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
Prabowo, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Rusia atas undangan yang diberikan kepada Indonesia.
Dari Vladivostok, Presiden Prabowo kembali menegaskan arah yang ingin dibangun melalui diplomasi ekonomi Indonesia: perjanjian harus membuka perdagangan, perdagangan harus menciptakan lapangan pekerjaan, dan pertumbuhan ekonomi pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi rakyat.(RE/red)































