Temuan Obat Kedaluwarsa Picu Dugaan Klaim Ganda, BAKUMKU Desak Kejaksaan Selidiki

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Jumat, 6 Februari 2026 - 20:57 WIB

40337 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ATAPKOTA.COM, PEMATANGSIANTAR – Dugaan penyimpangan pengelolaan pengadaan obat di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar dan 19 puskesmas mencuat ke publik. Dewan Pimpinan Nasional Lembaga Hukum dan Lingkungan (DPN BAKUMKU) mendesak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dan Kejaksaan Negeri Pematangsiantar melakukan penyelidikan menyeluruh guna memastikan kepastian hukum.

Desakan tersebut disampaikan setelah BAKUMKU menghimpun temuan awal atas pengelolaan obat yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kesehatan. Berdasarkan dokumen yang diklaim diperoleh lembaga tersebut, selama periode 2015 hingga 2024, tercatat ratusan item obat yang melewati masa kedaluwarsa.

BAKUMKU mencatat sedikitnya 201 jenis obat kedaluwarsa dengan estimasi nilai kerugian mencapai Rp 1.217.115.488.

Obat-obatan tersebut diduga tidak terserap akibat ketidaktepatan perencanaan kebutuhan, distribusi yang tidak proporsional, serta lemahnya pengawasan pemanfaatan di tingkat fasilitas pelayanan kesehatan.

Tak hanya soal obat kedaluwarsa, BAKUMKU juga menyoroti dugaan praktik klaim pembiayaan obat ke BPJS Kesehatan, padahal pengadaan obat di Dinas Kesehatan dan puskesmas telah dibiayai melalui APBD dan APBN. Jika dugaan ini terbukti, negara berpotensi menanggung pembiayaan ganda (double funding) atas satu jenis pelayanan yang sama.

Ketua Umum DPN BAKUMKU, Dapot Hasiholan Purba, S.H., menyatakan bahwa seluruh rangkaian pengelolaan obat tersebut perlu diaudit secara independen dan ditelusuri aparat penegak hukum.

“Obat dibeli menggunakan anggaran negara. Namun dalam praktik pelayanan, ada dugaan obat yang sama tetap diklaim ke BPJS. Jika benar, ini berpotensi menjadi pembayaran ganda oleh negara. Karena itu dibutuhkan audit dan pemeriksaan yang transparan, profesional, dan akuntabel,” ujar Dapot kepada wartawan.

Menurut BAKUMKU, penyelidikan seharusnya tidak berhenti pada temuan obat kedaluwarsa semata, melainkan mencakup perencanaan kebutuhan, mekanisme pengadaan, distribusi, pemanfaatan, hingga sistem klaim pembiayaan pelayanan kesehatan. Penanganan hukum diharapkan dilakukan secara objektif dan sesuai peraturan perundang-undangan apabila ditemukan unsur pelanggaran.

Dapot mengungkapkan bahwa laporan pengaduan masyarakat telah disampaikan secara resmi kepada Kejati Sumut dan Kejari Pematangsiantar pada Senin, 8 September 2025, dan kini menunggu tahapan ekspose maupun kejelasan progres penanganan perkara.

Sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial, BAKUMKU mengajak masyarakat ikut mengawasi pengelolaan anggaran kesehatan. Menurutnya, transparansi menjadi kunci untuk mencegah pemborosan dan potensi tindak pidana.

“Pelayanan kesehatan adalah hak dasar masyarakat. Anggaran kesehatan wajib dikelola secara efektif, transparan, dan bertanggung jawab agar tidak membuka ruang klaim ganda, kelalaian serius, manipulasi administrasi, maupun penyalahgunaan wewenang,” kata Dapot menutup pernyataannya. (Tim)

Berita Terkait

Dugaan Kayu Hutan Hatonduhan Masuk Pematangsiantar, Sejumlah Sawmill Diminta Buka Dokumen
Wesly Silalahi Terima Pokok Pikiran DPRD Pematangsiantar, Prioritas dan Kemampuan Anggaran Jadi Pertimbangan
Perambahan Hutan Hatonduhan, Kepala KPH Pematangsiantar Janji Turunkan Petugas Ke Lokasi
Perambahan Hutan Hatonduhan Disorot DPRD Sumut, Komisi A Minta Laporan Resmi KPH
Kasat Lantas Polres Simalungun Gelar Pelatihan Safety Riding di PT Aice Sei Mangkei, Laka Lantas Turun 30 Persen Selama Operasi Patuh Toba 2026
BPKP Dorong Transparansi Dana Desa, 200 Camat dan Pangulu Ikuti Workshop di Simalungun
Asahan Raih Nilai 97,30 Kategori Istimewa, KPK Temukan 11 Pejabat Belum Lapor LHKPN
Rakernas III PJS Tetapkan Tujuh Rekomendasi, Targetkan UKW di 26 Provinsi

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:21 WIB

Dugaan Kayu Hutan Hatonduhan Masuk Pematangsiantar, Sejumlah Sawmill Diminta Buka Dokumen

Kamis, 5 November 2026 - 21:22 WIB

Wesly Silalahi Terima Pokok Pikiran DPRD Pematangsiantar, Prioritas dan Kemampuan Anggaran Jadi Pertimbangan

Kamis, 5 November 2026 - 21:11 WIB

Perambahan Hutan Hatonduhan, Kepala KPH Pematangsiantar Janji Turunkan Petugas Ke Lokasi

Kamis, 5 November 2026 - 20:04 WIB

Perambahan Hutan Hatonduhan Disorot DPRD Sumut, Komisi A Minta Laporan Resmi KPH

Kamis, 5 November 2026 - 18:30 WIB

BPKP Dorong Transparansi Dana Desa, 200 Camat dan Pangulu Ikuti Workshop di Simalungun

Kamis, 5 November 2026 - 17:40 WIB

Asahan Raih Nilai 97,30 Kategori Istimewa, KPK Temukan 11 Pejabat Belum Lapor LHKPN

Kamis, 5 November 2026 - 17:25 WIB

Rakernas III PJS Tetapkan Tujuh Rekomendasi, Targetkan UKW di 26 Provinsi

Kamis, 5 November 2026 - 17:15 WIB

KPK Beri Nilai 97,30 Persen kepada Pemkab Asahan, Sejumlah Catatan Perbaikan Tetap Disampaikan

Berita Terbaru