ATAPKOTA.COM, BATAM – Agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Pro Jurnalismedia Siber (PJS) di Asrama Haji Batam, Rabu (4/11/2026), menghadirkan suasana berbeda. Di tengah pembahasan organisasi dan konsolidasi program kerja, perhatian peserta justru tertuju pada penampilan Ketua Dewan Penyantun dan Pembina DPP PJS, Alias Wello, yang membawakan dua puisi karya penyair besar Indonesia.
Mantan Bupati Lingga yang akrab disapa AWe tersebut membacakan puisi Suara Terluka karya WS Rendra dan Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri.
Dengan penghayatan dan penguasaan intonasi, AWe menyampaikan kedua puisi tersebut tanpa terpaku pada teks. Permainan tekanan suara, ekspresi, serta gerak tubuh membuat penampilannya menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian dalam rangkaian Rakernas.
Penampilan itu sekaligus menghadirkan warna berbeda di tengah kegiatan yang umumnya diisi pengarahan, pembahasan program, dan agenda organisasi.
AWe hadir bersama Prof. Nelson Pomalingo dalam Rakernas III PJS. Ia kemudian diminta membacakan puisi oleh Ketua Umum DPP PJS, Mahmud Marhaba, setelah menyampaikan pengarahan kepada peserta.
Mahmud menyebut AWe memiliki kemampuan dalam membawakan puisi, termasuk menghafal dan menyampaikan karya sastra tanpa bantuan teks.
“Pak Alias Wello ini adalah seniman yang dikenal cukup piawai membaca puisi. Bahkan, bisa berpuisi tanpa teks. Karena itu, kita mohon kesediaan beliau membacakan puisi terbaiknya,” ujar Mahmud.
Permintaan tersebut disambut AWe dengan membawakan dua karya sastra yang memiliki karakter dan kekuatan ekspresi berbeda. Ia tampil percaya diri, memainkan irama pembacaan, serta memberikan penekanan pada bagian-bagian tertentu untuk memperkuat pesan puisi.
Penampilan itu mendapat respons positif dari peserta Rakernas. Mahmud bahkan mengaku ikut terbawa suasana ketika mendengarkan pembacaan puisi tersebut.
“Penjiwaannya luar biasa. Saya merinding mendengarnya. Peserta yang mulai mengantuk langsung segar,” ungkap Mahmud.
Bagi AWe, puisi bukan sekadar rangkaian kata yang disampaikan melalui suara. Karya sastra merupakan medium untuk menyuarakan perasaan, kegelisahan, dan berbagai pesan kehidupan melalui kekuatan bahasa.
Dua puisi yang dibawakannya menjadi pengingat bahwa kata-kata memiliki kekuatan dalam membangun kesadaran, menyampaikan kritik, serta menggugah pemikiran.
Menurut AWe, dunia jurnalistik dan kesusastraan memiliki titik temu pada kekuatan kata-kata, meskipun keduanya menggunakan pendekatan berbeda.
“Bedanya, jurnalis menyampaikan kenyataan melalui berita, sementara penyair merawat kenyataan melalui rasa dan imajinasi. Keduanya membuktikan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa,” kata AWe.
Penampilan tersebut menjadi salah satu momen berkesan dalam Rakernas III PJS di Batam. Di tengah kesibukan membahas arah dan masa depan organisasi, kehadiran seni memberikan ruang refleksi bahwa profesi jurnalistik tidak hanya membutuhkan ketajaman menyampaikan fakta, tetapi juga kepekaan dalam memahami kehidupan manusia.
Pada akhirnya, baik jurnalis maupun penyair memiliki tanggung jawab terhadap kekuatan kata-kata. Jurnalis dituntut menjaga kebenaran fakta, sementara penyair menghadirkan pengalaman dan kegelisahan manusia melalui karya sastra.(AP/red)

































