ATAPKOTA.COM – Miriam Haart, bintang serial Netflix My Unorthodox Life dan influencer media sosial, baru-baru ini menghadapi kenyataan pahit terkait identitasnya sebagai seorang Yahudi, queer, dan pendukung vokal Israel.
Saat menghadiri parade Pride di Tel Aviv, Miriam terpaksa berlindung di tempat perlindungan bom. Serangan rudal selama Perang 12 Hari antara Israel dan Iran memaksa ribuan warga sipil, termasuk Miriam, mencari perlindungan. Namun, bukan rudal yang paling mengguncangnya melainkan gelombang antisemitisme terhadap pendukung Israel yang datang dari komunitas progresif, yang selama ini ia anggap sebagai ruang aman.
Dalam podcast East to West produksi Jerusalem Center for Security and Foreign Affairs, Miriam dengan jujur membagikan pengalamannya. Ia mengaku kehilangan ribuan pengikut hanya karena menyatakan dukungan terhadap Israel.
“Ternyata menjadi Yahudi dan bangga mengakuinya kini dianggap salah, bahkan oleh mereka yang mengaku memperjuangkan keadilan,” ucap Miriam getir. Kamis (3/7).
Miriam menolak mundur meski terus dihujani ancaman dan hujatan. Ia menegaskan bahwa ia tidak akan menyembunyikan identitasnya. “Saya adalah perempuan queer Yahudi yang bangga dengan siapa saya,” katanya penuh keyakinan.
Menurut Miriam, dukungan terhadap Israel bukan berarti menyetujui semua kebijakan pemerintah. “Ketika saya berbicara tentang Israel, saya bukan sedang membela semua keputusan pemerintah. Saya sedang membela hak saya untuk ada,” tegasnya dalam nada emosional.
Pilihannya untuk tetap vokal membuatnya kehilangan ribuan pengikut. Namun, Miriam tetap teguh. “Lebih baik kehilangan pengikut daripada kehilangan integritas,” ucapnya tegas.
Kisah Miriam mencerminkan dilema yang dihadapi banyak orang Yahudi progresif saat ini. Mereka terjepit di antara solidaritas politik dan identitas spiritual. Dalam suasana yang semakin terpolarisasi, keberanian untuk tetap bersuara menjadi ujian nyata integritas dan keyakinan. (*)
































