ATAPKOTA.COM, GUATEMALA –Lima pria tewas dibakar hidup-hidup oleh massa di Santa María de Jesús, Guatemala, setelah warga menuduh mereka menjarah rumah yang rusak akibat gempa bermagnitudo 5,7, Jumat (11/7).
dilangsir dari Aljazeera, Juru bicara kepolisian César Mateo mengatakan, para pria tersebut dituduh memanfaatkan situasi gelap dan kekacauan pascagempa untuk mencuri dari rumah yang ditinggal penghuninya. Banyak warga saat itu mengungsi ke tempat penampungan atau rumah keluarga.
“Meskipun pencurian adalah tindak pidana, lynching juga merupakan kejahatan,” tegas Mateo.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Guatemala, massa mengepung para tersangka pada Kamis malam dan menghadang polisi yang mencoba mengevakuasi mereka. Warga memukuli kelima pria itu dengan batu dan kayu sebelum membakar mereka hidup-hidup di tengah kerumunan.
Peristiwa mengenaskan ini terjadi di Santa María de Jesús, wilayah terdampak parah yang terletak di Departemen Sacatepéquez, barat daya ibu kota Guatemala City. Gempa menyebabkan longsor, memutus akses jalan, serta memicu pemadaman listrik. Tujuh orang dilaporkan tewas di seluruh wilayah akibat bencana tersebut.
Aksi main hakim sendiri atau vigilantisme memang kerap terjadi di wilayah pedesaan Guatemala, terutama di daerah dengan penegakan hukum lemah. Data organisasi masyarakat sipil mencatat, sejak 2008 hingga 2020, ada 361 orang tewas dan 1.396 orang terluka akibat aksi massa serupa.
Sebagian besar penduduk Santa María de Jesús berasal dari komunitas adat Maya yang kini terisolasi akibat bencana. Pemerintah Guatemala mengirim bantuan kemanusiaan melalui jalur udara. Badan Penanggulangan Bencana Nasional (Conred) menyebut telah menerima bantuan dari UNHCR, termasuk lampu tenaga surya, kelambu, selimut, matras, ember, dan perlengkapan dapur.
Insiden ini kembali menyoroti masalah vigilantisme dan ketidakpercayaan publik terhadap sistem hukum di Guatemala, terutama di tengah kondisi darurat seperti bencana alam.(red)/kr
































