ATAPKOTA.COM – Pengakuan The New York Times pada 30 Juli 2025 terkait kesalahan pelaporan dan koreksi foto halaman depan edisi 25 Juli yang menampilkan Mohammed Zakaria al-Mutawaq, anak Palestina berusia 18 bulan dengan cerebral palsy dan kelainan genetik, namun keliru disebut sebagai korban kelaparan bukan sekadar kekeliruan jurnalisme.
Kasus ini mencerminkan pola perang informasi terkoordinasi yang selama bertahun-tahun digunakan untuk mendelegitimasi dan mengisolasi Israel di mata dunia.
Hamas, sebagai proksi Iran, memanfaatkan kampanye disinformasi untuk memenangkan opini publik global, merusak citra Israel, dan melemahkan posisinya secara internasional. Salah satu narasi utama adalah tuduhan kelaparan sistematis di Gaza. Narasi ini berhasil memengaruhi opini Barat, meski fakta lapangan menunjukkan Israel justru memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan.
Data UN Office for Project Services (UNOPS) mencatat bahwa 87% bantuan yang masuk Gaza antara 19 Mei–29 Juli 2025 tidak sampai ke tujuan karena diambil warga kelaparan atau dirampas kelompok bersenjata. Fakta ini mengungkap bahwa Hamas sengaja memanipulasi distribusi bantuan demi menguatkan tuduhan terhadap Israel.
Sejak pengambilalihan Gaza pada 2007, langkah keamanan Israel kerap dibingkai sebagai “hukuman kolektif.” Pada 2012, LSM Gisha memelintir data kebutuhan kalori yang dihitung Israel menjadi narasi kelaparan disengaja. Tuduhan ini akhirnya digunakan Jaksa ICC pada 2024 untuk menjerat pemimpin Israel dengan dakwaan “kelaparan sebagai senjata perang.”
Hamas menjalankan strategi ganda:
-
Menyalahkan Israel atas krisis kemanusiaan.
-
Menolak tanggung jawab sebagai penguasa de facto Gaza.
Ironisnya, Hamas juga membuat sandera Israel kelaparan demi memaksakan gencatan senjata sesuai kepentingannya.
Banyak foto anak-anak dengan penyakit bawaan seperti cystic fibrosis atau cerebral palsy dipublikasikan seolah mereka korban kelaparan akibat blokade Israel. The New York Times memotong foto untuk menghilangkan anggota keluarga yang sehat demi memperkuat narasi. BBC bahkan pernah mengutip klaim “14.000 bayi akan meninggal dalam 48 jam,” yang ternyata hanya proyeksi tahunan.
COGAT mencatat, antara Oktober 2023–Juni 2025, Israel telah mengizinkan lebih dari 90.000 truk berisi 1,8 juta ton pasokan masuk ke Gaza setara lebih dari 3.000 kalori per orang per hari, melebihi standar kemanusiaan internasional. Namun, Hamas dan kelompok bersenjata lainnya kerap merampas bantuan, bahkan mengancam pekerja kemanusiaan. Gaza Humanitarian Foundation melaporkan Hamas menawarkan imbalan bagi yang membunuh pekerja bantuan, menyebabkan 12 staf lokal tewas.
Diplomasi publik Israel mulai beralih dari hasbara (penjelasan) menjadi strategi toda’a (narasi proaktif). Kampanye di Times Square, New York, menampilkan gambar sandera Israel yang kelaparan, dengan pesan: “Inilah kelaparan yang sebenarnya.” Pejabat AS seperti Donald Trump dan Steve Witkoff menegaskan tidak ada kelaparan sistematis di Gaza, sekaligus menolak memberi legitimasi politik kepada Hamas.
Perang informasi ini adalah “front kedelapan” melawan Israel, sama pentingnya dengan pertempuran militer. Hamas memanfaatkan hukum kemanusiaan dan opini publik sebagai senjata strategis. Mengungkap pola ini adalah kunci untuk melawan narasi yang telah membajak simpati dunia Barat. Bagi Israel dan sekutunya, mempertahankan kebenaran berbasis data menjadi satu-satunya cara untuk mematahkan fitnah kelaparan palsu yang telah digunakan sebagai senjata politik.
Sumber : JCPA.ORG


































