ATAPKOTA.COM, ACEH TIMUR – Air mata pecah di Pendopo Idi. Suara tangis keluarga bercampur bahagia menyambut lima pemuda Aceh yang akhirnya pulang setelah melewati kisah dramatis: berbulan-bulan bekerja tanpa kontrak, makan hanya dua kali sehari, menyikat gigi dengan air asin, hingga nekat melompat ke laut demi selamat dari perlakuan tak manusiawi di kapal penangkap cumi.
Mereka adalah Osama (23) dan Ahyatul Kamal (22) asal Kecamatan Birem Bayem, Mohamad Azhar (22) dari Rantau Selamat, serta Abdul Asis (20) dan Ahmad Idrus (20) dari Aceh Tamiang.
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, ikut hadir langsung menyambut. “Ini bukan sekadar kepulangan nelayan, tetapi penyelamatan lima anak bangsa dari derita yang memilukan,” tegasnya.
Awalnya, kelima pemuda ini berangkat dari Tanjung Priok menuju Merauke dengan janji manis: kontrak 10 bulan dan gaji besar. Namun, kenyataan di kapal jauh berbeda.
Mereka dipaksa bekerja tanpa kontrak, diperlakukan kasar, bahkan kebutuhan dasar pun tak diberikan.
“Untuk sikat gigi saja kami pakai air asin. Air tawar tidak boleh dipakai, mandi seminggu sekali, makan cuma dua kali sehari,” kata Azis (20) dengan suara bergetar.
Dalam kondisi tertekan, mereka akhirnya nekat melompat ke laut di perairan Kepulauan Aru sejauh delapan mil dari bibir pantai. Dengan hanya pelampung seadanya, mereka berenang sekitar sembilan jam.
“Kami sempat terpisah 200 meter, salah satu teman hampir tenggelam. Tapi kami saling menyemangati dan berdoa,” tutur Azis.
Beruntung, nelayan lokal menemukan mereka lalu menampung di rumah warga. Keluarga yang sempat panik melapor ke Bupati Aceh Timur. Melalui koordinasi lintas pemerintah daerah hingga Dinas Sosial, mereka akhirnya berhasil dipulangkan.
Bupati Al-Farlaky menegaskan biaya perjalanan dari Kepulauan Aru hingga Jakarta ditanggung Dinas Sosial Aceh Timur, sementara pemulangan ke Aceh difasilitasi Dinas Sosial Aceh.
“Ini bukti kolaborasi antar-pemerintah. Terima kasih kepada semua pihak yang membantu hingga mereka bisa kembali dengan selamat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pemuda Aceh agar tak mudah tergiur janji gaji besar di luar daerah.
“Fasilitas dasar pun tidak diberikan. Jangan mau dibohongi. Di Aceh banyak peluang kerja jika kita mau berusaha,” tegasnya.
Tangis keluarga pecah ketika lima pemuda ini tiba di Aceh Timur. Sanak saudara memeluk mereka erat, seakan tak mau melepas. “Kami tidak tahu harus berharap kepada siapa. Allah menolong kami lewat bantuan Pak Bupati dan pemerintah. Terima kasih,” kata Azis lirih.
Turut hadir dalam penyambutan Kepala Dinas Tenaga Kerja, Dinas Sosial, Dinas Kelautan dan Perikanan, hingga Camat Birem Bayeun. (*)

































