ATAPKOTA.COM – Dunia modern sering memuji kepalsuan dan menawarkan berbagai jalan pintas yang tampak menguntungkan. Namun, Allah tetap memanggil umat-Nya untuk menabur kebenaran. Panggilan ini menuntut keberanian, karena banyak orang berharap memanen berkat, tetapi mereka justru menabur dosa. Mereka menanam ambisi pribadi, tetapi, ironisnya, ingin memanen kedamaian. Karena itu, umat percaya perlu kembali pada hukum rohani yang tidak pernah berubah: apa yang ditabur, itulah yang dituai.
Firman Tuhan menegaskan hal ini melalui Hosea 10:12 yang berbunyi: “Taburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah yang baru, sebab sudah waktunya untuk mencari Tuhan.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa menabur kebenaran berarti hidup selaras dengan kehendak-Nya. Tindakan ini menuntut integritas, terutama ketika dunia menganggap kejujuran sebagai kelemahan.
Walaupun buah kebenaran tidak muncul segera, proses pertumbuhan tetap bergerak. Benih itu akan menembus tanah, berakar, lalu bertumbuh. Dengan demikian, hasil akhirnya membawa damai sejahtera, sukacita sejati, dan pemeliharaan Tuhan yang tidak terganggu oleh keadaan. Sebaliknya, mereka yang menabur tipu daya mungkin menikmati hasil cepat, tetapi panen akhirnya selalu menimbulkan kerusakan dan kehilangan.
Karena itu, Tuhan mengajak umat-Nya membuka “tanah yang baru”. Langkah ini mencakup pembaruan hati, pembersihan motivasi, serta penataan ulang cara berpikir. Dengan hati seperti ini, kebenaran dapat bertumbuh subur, dan umat percaya dapat menikmati kasih setia Tuhan sebagai penuaian yang berlimpah.
Doa sederhana dapat menjadi langkah awal:
“Tuhan, tolong aku menjauhi segala tipu muslihat. Ajarlah aku menabur kebenaran, sehingga aku dapat memanen kasih setia-Mu. Amin.”
Oleh : Tim Redaksi atapkota.

































