ATAPKOTA.COM, SUMUT – Pendekatan edukasi dan imbauan yang dilakukan secara masif mulai menunjukkan hasil dalam pelaksanaan Operasi Keselamatan Toba 2026 di Sumatera Utara. Memasuki hari ketujuh operasi yang digelar sejak 2 Februari 2026, Polda Sumatera Utara mencatat sejumlah indikator positif, baik dari sisi penindakan maupun angka kecelakaan lalu lintas, hingga Senin, 9 Februari 2026.
Operasi yang mengedepankan strategi preemtif dan preventif ini difokuskan pada peningkatan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas. Selama sepekan, aparat kepolisian menggelar berbagai kegiatan edukatif di sekolah, kampus, perkantoran, terminal, serta komunitas masyarakat. Program Police Goes to School, kampanye safety riding dan safety driving, penyebaran brosur dan leaflet keselamatan, hingga edukasi melalui media elektronik dan media sosial dilakukan secara berkelanjutan.
Di bidang preventif, personel kepolisian intens melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, serta patroli pada jam dan lokasi rawan. Polda Sumatera Utara mencatat sebanyak 1.583 kegiatan preventif langsung kepada masyarakat, termasuk kehadiran di titik rawan kecelakaan (black spot) dan rawan pelanggaran (trouble spot), serta pemeriksaan terhadap pengemudi dan awak angkutan umum. Selain itu, sebanyak 108 kegiatan preventif terhadap kendaraan dilakukan melalui pengawasan dan ramp check di jalur rawan.
Sementara pada aspek penegakan hukum, jumlah pelanggaran lalu lintas yang ditindak mengalami penurunan signifikan. Selama tujuh hari operasi, tercatat 908 kasus penindakan atau turun 55,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 2.041 kasus. Dari jumlah tersebut, 74 pelanggaran ditindak melalui sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), sedangkan 13 pelanggaran melalui non-ETLE.
Jumlah teguran yang diberikan kepada pelanggar juga menurun, dari 1.482 teguran pada tahun sebelumnya menjadi 801 teguran. Penindakan terhadap kendaraan over dimension dan over loading (ODOL) tercatat sebanyak 15 kasus, serta lima kasus kendaraan pribadi yang digunakan sebagai angkutan umum atau travel tanpa izin resmi.
Penurunan angka penindakan tersebut dinilai sebagai indikator meningkatnya kepatuhan masyarakat, seiring dengan masifnya kegiatan edukasi dan imbauan yang dilakukan aparat kepolisian selama operasi berlangsung.
Dampak positif juga tercermin pada data kecelakaan lalu lintas. Jumlah kejadian kecelakaan pada hari pertama hingga ketujuh operasi menurun dari 100 kasus menjadi 82 kasus, atau turun 18 persen. Angka korban meninggal dunia tercatat turun hingga 50 persen, sementara korban luka berat dan luka ringan juga mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumatera Utara menyampaikan bahwa Operasi Keselamatan Toba 2026 sejak awal dirancang sebagai operasi yang humanis dengan pendekatan edukatif.
“Operasi ini mengedepankan upaya preventif dan preemtif melalui penyuluhan serta kehadiran personel di lapangan. Penegakan hukum tetap dilakukan secara profesional dan terukur, namun tujuan utamanya adalah membangun kesadaran masyarakat agar tertib berlalu lintas karena kebutuhan, bukan semata-mata karena takut ditindak,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mempertahankan tren positif tersebut agar budaya tertib berlalu lintas tidak hanya berlangsung selama operasi, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari demi keselamatan bersama.
Dengan capaian sementara ini, Operasi Keselamatan Toba 2026 menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang konsisten, didukung pengawasan dan penegakan hukum yang proporsional, mampu memberikan dampak nyata terhadap keselamatan dan ketertiban lalu lintas di Sumatera Utara. (AP/red)




































