ATAPKOTA.COM – Di tengah kekejaman pendudukan militer Jepang di Kalimantan Barat, nama Pang Suma muncul sebagai simbol perlawanan rakyat Dayak. Ia bukan tentara terlatih, bukan pula bangsawan, melainkan pemimpin adat dari Suku Dayak Desa yang mengangkat mandau demi mempertahankan martabat manusia dan tanah leluhur. Perjuangannya berpuncak dalam Perang Dayak Desa, sebuah episode berdarah yang menelan nyawa sang panglima.
Pang Suma, yang memiliki nama asli Bendera bin Dulung—dalam sejumlah sumber juga disebut Menera—memimpin perlawanan rakyat pada tahun-tahun terakhir pendudukan Jepang (1942–1945). Perlawanan itu lahir bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan dari akumulasi penderitaan kolektif yang tak lagi terbendung.
Kekejaman Jepang di wilayah pedalaman Kalimantan Barat tercatat luas. Kerja paksa (romusha) di perusahaan perkayuan, perampasan hasil bumi, hingga kekerasan sistematis terhadap warga sipil menciptakan trauma mendalam. Tragedi paling kelam adalah Peristiwa Mandor, ketika ribuan tokoh lokal, bangsawan, dan cendekiawan dibunuh secara massal.
Titik balik perlawanan terjadi ketika seorang gadis Dayak diperlakukan secara tidak bermartabat oleh mandor Jepang. Peristiwa itu menyentuh harga diri kolektif masyarakat. Pang Suma, bersama saudaranya Pang Linggan dan para pejuang desa, menyerang dan menewaskan mandor tersebut. Insiden ini segera menyulut perlawanan terbuka.
Seruan adat Mangkuk Merah pun diedarkan. Dalam tradisi Dayak, Mangkuk Merah adalah tanda perang yang memanggil seluruh komunitas untuk bangkit. Dari berbagai penjuru Kalimantan, ribuan orang berdatangan. Mereka bersenjatakan mandau, sumpitan, dan senjata tradisional lain, menghadapi tentara Jepang yang dilengkapi senapan dan persenjataan modern.
Dalam sejumlah pertempuran, Pang Suma menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin lapangan yang disegani. Serangan-serangan mendadak dari rimba membuat pasukan Jepang kewalahan. Dalam laporan-laporan lisan yang berkembang di masyarakat, Jepang menjulukinya “Hantu Rimba”, karena kemampuannya menghilang dan menyerang secara tiba-tiba.
Puncak perlawanan terjadi di Meliau, Kabupaten Sanggau, pada akhir Juni hingga Juli 1945. Pasukan Pang Suma berhasil merebut kota itu dari kendali Jepang. Bagi rakyat, kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan militer, melainkan pembuktian bahwa pendudukan Jepang tidak sepenuhnya tak terkalahkan.
Namun, Jepang segera melancarkan serangan balasan besar-besaran. Pada 17 Juli 1945, pertempuran sengit pecah di sekitar dermaga Meliau. Dalam kontak senjata di bawah jembatan, Pang Suma tertembak di bagian paha kiri. Luka itu fatal.
Menurut penuturan yang diwariskan turun-temurun, Pang Suma menolak dievakuasi.
“Tinggalkan saya di sini. Teruskan perjuangan,” demikian pesan terakhir yang dikenang para pengikutnya.
Tak lama kemudian, Pang Suma gugur. Bersamanya, turut gugur Pang Linggan dan Pang Apae, dua tokoh penting dalam perlawanan Dayak Desa.
Gugurnya Pang Suma menjadi pukulan berat bagi pasukan rakyat. Namun, perlawanan yang ia nyalakan tidak padam. Beberapa pekan setelah itu, Jepang menyerah kepada Sekutu. Indonesia kemudian memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Pang Suma dimakamkan di Meliau. Kini, sebuah tugu peringatan berdiri di sana, menjadi penanda sejarah bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan di kota-kota besar, tetapi juga di rimba Kalimantan.
Kisah Pang Suma menegaskan satu hal penting dalam historiografi Indonesia: kemerdekaan adalah hasil akumulasi perlawanan rakyat di berbagai daerah, termasuk mereka yang bertarung dengan senjata sederhana, namun dengan keberanian yang tak tergoyahkan. Ia gugur sebagai manusia, tetapi hidup abadi sebagai simbol perlawanan dan harga diri. (Hagia Sofia/red)
Sumber : Dikutip dari berbagai sumber.

































