Mandau Melawan Senapan: Perlawanan Pang Suma di Kalimantan Barat

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:54 WIB

40285 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto sejarah.

Foto sejarah.

ATAPKOTA.COM – Di tengah kekejaman pendudukan militer Jepang di Kalimantan Barat, nama Pang Suma muncul sebagai simbol perlawanan rakyat Dayak. Ia bukan tentara terlatih, bukan pula bangsawan, melainkan pemimpin adat dari Suku Dayak Desa yang mengangkat mandau demi mempertahankan martabat manusia dan tanah leluhur. Perjuangannya berpuncak dalam Perang Dayak Desa, sebuah episode berdarah yang menelan nyawa sang panglima.

Pang Suma, yang memiliki nama asli Bendera bin Dulung—dalam sejumlah sumber juga disebut Menera—memimpin perlawanan rakyat pada tahun-tahun terakhir pendudukan Jepang (1942–1945). Perlawanan itu lahir bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan dari akumulasi penderitaan kolektif yang tak lagi terbendung.

Kekejaman Jepang di wilayah pedalaman Kalimantan Barat tercatat luas. Kerja paksa (romusha) di perusahaan perkayuan, perampasan hasil bumi, hingga kekerasan sistematis terhadap warga sipil menciptakan trauma mendalam. Tragedi paling kelam adalah Peristiwa Mandor, ketika ribuan tokoh lokal, bangsawan, dan cendekiawan dibunuh secara massal.

Titik balik perlawanan terjadi ketika seorang gadis Dayak diperlakukan secara tidak bermartabat oleh mandor Jepang. Peristiwa itu menyentuh harga diri kolektif masyarakat. Pang Suma, bersama saudaranya Pang Linggan dan para pejuang desa, menyerang dan menewaskan mandor tersebut. Insiden ini segera menyulut perlawanan terbuka.

Seruan adat Mangkuk Merah pun diedarkan. Dalam tradisi Dayak, Mangkuk Merah adalah tanda perang yang memanggil seluruh komunitas untuk bangkit. Dari berbagai penjuru Kalimantan, ribuan orang berdatangan. Mereka bersenjatakan mandau, sumpitan, dan senjata tradisional lain, menghadapi tentara Jepang yang dilengkapi senapan dan persenjataan modern.

Dalam sejumlah pertempuran, Pang Suma menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin lapangan yang disegani. Serangan-serangan mendadak dari rimba membuat pasukan Jepang kewalahan. Dalam laporan-laporan lisan yang berkembang di masyarakat, Jepang menjulukinya “Hantu Rimba”, karena kemampuannya menghilang dan menyerang secara tiba-tiba.

Puncak perlawanan terjadi di Meliau, Kabupaten Sanggau, pada akhir Juni hingga Juli 1945. Pasukan Pang Suma berhasil merebut kota itu dari kendali Jepang. Bagi rakyat, kemenangan ini bukan sekadar keberhasilan militer, melainkan pembuktian bahwa pendudukan Jepang tidak sepenuhnya tak terkalahkan.

Namun, Jepang segera melancarkan serangan balasan besar-besaran. Pada 17 Juli 1945, pertempuran sengit pecah di sekitar dermaga Meliau. Dalam kontak senjata di bawah jembatan, Pang Suma tertembak di bagian paha kiri. Luka itu fatal.

Menurut penuturan yang diwariskan turun-temurun, Pang Suma menolak dievakuasi.

“Tinggalkan saya di sini. Teruskan perjuangan,” demikian pesan terakhir yang dikenang para pengikutnya.

Tak lama kemudian, Pang Suma gugur. Bersamanya, turut gugur Pang Linggan dan Pang Apae, dua tokoh penting dalam perlawanan Dayak Desa.

Gugurnya Pang Suma menjadi pukulan berat bagi pasukan rakyat. Namun, perlawanan yang ia nyalakan tidak padam. Beberapa pekan setelah itu, Jepang menyerah kepada Sekutu. Indonesia kemudian memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Pang Suma dimakamkan di Meliau. Kini, sebuah tugu peringatan berdiri di sana, menjadi penanda sejarah bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan di kota-kota besar, tetapi juga di rimba Kalimantan.

Kisah Pang Suma menegaskan satu hal penting dalam historiografi Indonesia: kemerdekaan adalah hasil akumulasi perlawanan rakyat di berbagai daerah, termasuk mereka yang bertarung dengan senjata sederhana, namun dengan keberanian yang tak tergoyahkan. Ia gugur sebagai manusia, tetapi hidup abadi sebagai simbol perlawanan dan harga diri. (Hagia Sofia/red)

Sumber : Dikutip dari berbagai sumber.

Berita Terkait

Diduga Simpan 100 Butir Ekstasi, Pria 49 Tahun Diamankan Polisi di Tanjung Pura
Festival Sungai Asahan Dibuka Bupati Taufik, Sungai Jadi Perhatian untuk Wisata dan Ekonomi Warga
Api Anantakupa Tak Kunjung Padam, 250 Alumni Eks Departemen Penerangan Reuni di Medan
Dinilai Berprestasi, Dr. Sarmedi Purba Dukung Prof. Sarintan Damanik Dua Periode Memimpin USI
Piala Soeratin Sumut 2026 di Pematangsiantar, PSSI Toba Andalkan Soposurung FC dan Halilintar FC
DLH Labuhanbatu Edukasi Pengelolaan Sampah di Rumah Ibadah, Tong Sampah Dibagikan Gratis
Dana Kelurahan 2026 Bangun Jalan Rabat Beton 85 Meter di Ladang Bambu Medan
Pemko Medan Raih detikSumatera Awards 2026 Berkat Digitalisasi dan Transparansi Pajak Daerah

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:10 WIB

Diduga Simpan 100 Butir Ekstasi, Pria 49 Tahun Diamankan Polisi di Tanjung Pura

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:12 WIB

Festival Sungai Asahan Dibuka Bupati Taufik, Sungai Jadi Perhatian untuk Wisata dan Ekonomi Warga

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 20:06 WIB

Api Anantakupa Tak Kunjung Padam, 250 Alumni Eks Departemen Penerangan Reuni di Medan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:33 WIB

Dinilai Berprestasi, Dr. Sarmedi Purba Dukung Prof. Sarintan Damanik Dua Periode Memimpin USI

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 15:25 WIB

Piala Soeratin Sumut 2026 di Pematangsiantar, PSSI Toba Andalkan Soposurung FC dan Halilintar FC

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:54 WIB

Dana Kelurahan 2026 Bangun Jalan Rabat Beton 85 Meter di Ladang Bambu Medan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:50 WIB

Pemko Medan Raih detikSumatera Awards 2026 Berkat Digitalisasi dan Transparansi Pajak Daerah

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Pemprov Sumut Raih Anugerah Pemerataan Pembangunan, Bobby Nasution: Kami Pelayan Masyarakat

Berita Terbaru