ATAPKOTA.COM, KARO – Pawai Festival Bunga dan Buah Karo 2026 berlangsung meriah di Berastagi, Kabupaten Karo, pada Kamis (30/7/2026). Ribuan masyarakat memadati sepanjang rute pawai untuk menyaksikan iring-iringan mobil hias yang dihiasi bunga segar dan buah-buahan khas Karo, sekaligus menjadi simbol perpaduan potensi pariwisata, pertanian, dan budaya daerah.
Pawai secara resmi dilepas Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya, didampingi Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan Bupati Karo Antonius Ginting, dari kawasan Taman Mejuah-juah, Berastagi.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi. Warga dan wisatawan memenuhi kawasan tribun utama hingga sepanjang jalur pawai untuk menyaksikan salah satu agenda unggulan pariwisata Kabupaten Karo yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN).
Dalam sambutannya, Surya mengatakan Festival Bunga dan Buah Karo menjadi bagian penting dalam memperkuat citra Sumatera Utara sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan alam.
“Festival ini merupakan wujud keindahan dan keunikan Kabupaten Karo yang bukan hanya bersifat sementara, tetapi menjadi warisan budaya yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Surya.
Pawai diawali dengan penampilan marching band yang membuka rangkaian acara, kemudian dilanjutkan iring-iringan mobil hias yang menampilkan beragam kreasi berbahan bunga segar serta buah-buahan hasil pertanian unggulan Kabupaten Karo.
Berbagai instansi pemerintah, organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, desa, badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), perusahaan swasta, hingga komunitas masyarakat turut ambil bagian dengan menghadirkan kendaraan hias bertema kekayaan hortikultura dan budaya Karo.
Selain mobil hias, peserta juga menampilkan busana kreatif yang memanfaatkan hasil pertanian lokal sebagai ornamen. Kehadiran kuda-kuda yang menjadi salah satu ikon wisata Berastagi turut menambah semarak pawai.
Festival tahun ini juga menampilkan Erpangir Ku Lau, tradisi masyarakat Karo yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.
Dalam tradisi masyarakat Karo, Erpangir Ku Lau merupakan ritual pembersihan diri menggunakan pangir, yaitu ramuan tradisional yang diracik dari dedaunan aromatik, bunga, dan jeruk purut, kemudian digunakan bersama air dari sumber mata air atau sungai.
Berdasarkan penjelasan penyelenggara, tradisi tersebut dimaknai sebagai simbol penyucian diri, ungkapan rasa syukur atas hasil panen, serta harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Penyelenggara menghadirkan tradisi tersebut sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya Karo kepada masyarakat luas sekaligus memperkuat identitas daerah di tengah pengembangan sektor pariwisata.
Melalui Festival Bunga dan Buah Karo 2026, Pemerintah Kabupaten Karo bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap promosi sektor pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, dan budaya lokal dapat terus berkembang serta memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat.(AP/red)

































