ATAPKOTA.COM, JAKARTA – Hilirisasi industri Indonesia terus berkembang dan tidak lagi bertumpu pada komoditas nikel. Dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10/2026), DEN memaparkan perkembangan industri aluminium dan komponen baterai litium yang mendorong proyeksi nilai ekspor produk hilirisasi mencapai sekitar US$50 miliar pada akhir 2026.
Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, menjelaskan bahwa kajian terbaru DEN menunjukkan perluasan sektor hilirisasi di Indonesia. Selain nikel, industri aluminium dan komponen baterai litium juga mengalami perkembangan yang dinilai signifikan.
“Yang pertama adalah terkait dengan hilirisasi. Tadi kami juga menyampaikan kepada Bapak Presiden, kajian hilirisasi terakhir yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi Nasional, di mana sekarang yang terjadi bukan hanya hilirisasi nikel yang terjadi secara masif di Indonesia, tapi ada dua komponen hilirisasi lain yang juga berkembang cukup pesat,” ujar Seto.
Salah satu sektor yang menjadi sorotan DEN adalah industri aluminium. Nilai ekspor produk aluminium pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$7,2 miliar, meningkat dibandingkan sekitar US$3,5 miliar pada 2024.
Proyeksi tersebut mencerminkan perkembangan industri pengolahan aluminium dalam negeri. Penambahan investasi dan pembangunan fasilitas pengolahan baru dinilai berpotensi memperkuat kapasitas produksi serta meningkatkan kontribusi sektor tersebut terhadap ekspor nasional.
Seto memperkirakan nilai ekspor aluminium masih dapat meningkat hingga melampaui US$10 miliar seiring bertambahnya investasi pada fasilitas peleburan atau smelter aluminium baru di Indonesia.
“Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat baik buat Indonesia. Ke depannya kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar 10 miliar dolar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” tuturnya.
Selain aluminium, Indonesia juga mulai memperkuat perannya dalam rantai pasok industri baterai litium. Menurut Seto, industri dalam negeri telah memproduksi sejumlah komponen baterai, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium.
Ia menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa industrialisasi dapat dilakukan melalui pembangunan ekosistem industri yang lebih lengkap, termasuk dengan mengolah bahan baku yang tidak tersedia secara alami di dalam negeri.
“Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap,” ungkap Seto.
Penguatan rantai pasok ini menjadi salah satu bagian dari perluasan hilirisasi yang diharapkan meningkatkan nilai tambah produk industri Indonesia sebelum dipasarkan ke luar negeri.
DEN memperkirakan nilai ekspor produk hilirisasi dari tiga kelompok industri, yakni nikel, aluminium, dan komponen baterai litium, mencapai sekitar US$50 miliar pada akhir 2026.
Angka tersebut diproyeksikan meningkat hampir 45 persen dibandingkan nilai ekspor produk hilirisasi pada 2024 yang disebut mencapai sekitar US$34,5 miliar.
Jika terealisasi, peningkatan ekspor tersebut dapat menambah penerimaan devisa sekaligus memperkuat peran industri pengolahan dalam struktur ekspor Indonesia.
Meski demikian, angka US$50 miliar tersebut masih berupa proyeksi. Realisasinya akan bergantung pada perkembangan produksi, permintaan pasar global, harga komoditas, serta kapasitas industri dalam negeri.
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, agenda hilirisasi juga mulai diarahkan pada sektor pertanian. DEN tengah menyiapkan pengembangan hilirisasi komoditas kratom dan kemenyan.
Menurut Luhut, rencana tersebut akan didukung pengembangan pusat riset genome sequencing di Toba untuk menunjang penelitian dan pengembangan komoditas.
“Sekarang era Presiden Prabowo ada dari pertanian yaitu hilirisasi kratom, hilirisasi tadi kemenyan,” ujar Luhut.
Perluasan hilirisasi ke sektor pertanian membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah dari komoditas lokal. Namun, pelaksanaannya memerlukan kejelasan mengenai kesiapan fasilitas riset, rencana investasi, standar pengolahan, dan akses pasar.
Secara keseluruhan, paparan DEN menunjukkan arah hilirisasi Indonesia yang semakin beragam, dari mineral hingga komponen baterai dan komoditas pertanian. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat ekosistem industri agar peningkatan nilai ekspor juga disertai pengembangan kapasitas produksi dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.(RE/red)

































