ATAPKOTA.COM – Program AI Ready ASEAN diperluas ke Jawa Tengah melalui kolaborasi antara ASEAN Foundation dan Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Kerja sama tersebut mencakup pelatihan teknis kecerdasan artifisial (AI), kampanye literasi, serta Training of Trainers (ToT) yang dijadwalkan berlangsung pada Februari hingga April 2026 di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Penandatanganan nota kesepahaman antara kedua lembaga difasilitasi di Kantor Sekretariat Wakil Presiden, Jakarta Pusat, pada Jumat, 13 Februari 2026. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi lintas sektor tersebut sebagai bagian dari penguatan tata kelola teknologi yang bertanggung jawab.
Menurut Gibran, pemanfaatan AI perlu berjalan seiring dengan prinsip keamanan dan etika, agar transformasi digital tidak menimbulkan risiko baru di masyarakat. Ia menyebut pelatihan teknis bagi siswa serta program peningkatan kapasitas pelatih sebagai langkah strategis untuk membangun literasi AI yang lebih luas.
Inisiatif ini disebut selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya tata kelola teknologi yang adaptif dan berbasis kebutuhan riil.
Executive Director ASEAN Foundation, Piti Srisangnam, menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi digital kawasan. Namun, ia mengingatkan percepatan adopsi AI harus diimbangi peningkatan literasi dan pemahaman etis.
Dari pihak kepolisian, Kepala Biro Operasi Polda Jateng Basya Radyananda yang mewakili Kapolda Ribut Hari Wibowo menyatakan kerja sama tersebut bukan sekadar formalitas administratif, melainkan bagian dari komitmen kelembagaan dalam menghadapi tantangan era digital.
Secara teknis, program In-depth Training AI ditargetkan menjangkau sekitar 8.000 peserta yang terdiri atas pemuda dan orang tua di enam karesidenan—Semarang, Pati, Pekalongan, Banyumas, Kedu, dan Surakarta. Selain itu, kampanye Raising Awareness of AI ditargetkan menjangkau lebih dari 140.000 penerima manfaat, termasuk siswa, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum.
Sejumlah pihak juga hadir dalam agenda tersebut, antara lain Kepala Bidang Hukum Polda Jateng Jansen Sitohang, Head of Communications ASEAN Foundation Anthoni Octaviano, serta Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Septiaji Eko Nugroho.
Tantangan berikutnya terletak pada konsistensi pelaksanaan, kualitas materi pelatihan, serta pengukuran dampak program terhadap peningkatan literasi AI di masyarakat. Tanpa indikator yang terukur, perluasan literasi digital berisiko berhenti pada seremoni dan target kuantitatif semata. (Edo/red)




































