ATAPKOTA.COM,JAKARTA – Perdebatan mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mendapat penjelasan dari ahli digital forensik Rismon Hasiholan Sianipar. Ia menyatakan bahwa dokumen tersebut asli setelah melakukan serangkaian pengujian ilmiah terhadap data yang beredar di ruang publik.
Pernyataan itu disampaikan Rismon kepada wartawan setelah bertemu dengan Wakil Presiden Gibran di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, yang berlangsung pada Jumat (13 Februari 2026).
“Iya, asli,” kata Rismon singkat saat dimintai konfirmasi mengenai hasil kajiannya.
Ia menjelaskan bahwa kesimpulan tersebut diperoleh setelah melakukan analisis digital forensik menggunakan sejumlah variabel teknis untuk menguji konsistensi dokumen yang dipersoalkan.
Menurut Rismon, pengujian dilakukan dengan membandingkan beberapa parameter teknis yang lazim digunakan dalam analisis citra digital.
“Saya melakukan pengujian menggunakan tiga variabel utama, di antaranya dua variabel geometri—yakni translasi dan rotasi—serta analisis pencahayaan. Ketiga aspek itu justru mengoreksi temuan awal saya dan mengarah pada kesimpulan bahwa dokumen tersebut autentik,” ujarnya.
Rismon mengakui bahwa pernyataannya mungkin tidak sejalan dengan ekspektasi sebagian pihak yang sebelumnya mengikuti polemik tersebut. Namun ia menegaskan bahwa seorang peneliti harus menyampaikan hasil kajian berdasarkan fakta ilmiah, bukan tekanan opini publik.
“Lebih baik menyampaikan hasil penelitian apa adanya daripada mendapat pujian sebagai pembela kebenaran, tetapi sebenarnya menutup-nutupi fakta,” katanya.
Ia juga menegaskan kesiapannya untuk memaparkan metode penelitian yang digunakannya secara terbuka, termasuk kepada pihak-pihak yang masih meragukan keaslian dokumen tersebut.
Menurut Rismon, keterbukaan ilmiah penting agar publik dapat memahami proses penelitian secara objektif.
“Saya siap menjelaskan metode yang saya gunakan, baik secara pribadi maupun dalam forum terbuka. Penelitian seharusnya transparan dan bisa diuji bersama,” tuturnya.
Ia pun mengajak rekan-rekannya yang masih mempertanyakan hasil kajian tersebut untuk tidak ragu mengungkapkan temuan secara jujur apabila memperoleh data baru.
“Jangan menyembunyikan fakta. Mungkin pada awalnya dianggap berbeda atau bahkan disalahpahami, tetapi itu jauh lebih baik daripada menutup kebenaran,” ujar Rismon. (Edo/red)

































