Cegah Gratifikasi Lebaran, Gubernur Sumut Terbitkan Surat Edaran Antikorupsi

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Senin, 16 Maret 2026 - 14:40 WIB

40128 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Sulaiman Harahap

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Sulaiman Harahap

ATAPKOTA.COM, SUMUT – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memperkuat langkah pencegahan korupsi menjelang hari raya. Komitmen itu ditegaskan melalui penerbitan Surat Edaran Gubernur Sumatera Utara Nomor 700.1.2.3/2047/2026 tentang pencegahan korupsi dan pengendalian gratifikasi terkait hari raya yang diterbitkan pada 10 Maret 2026.

Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, mengeluarkan kebijakan tersebut sebagai pengingat bagi aparatur pemerintah agar menghindari konflik kepentingan serta menjaga integritas dalam menjalankan tugas. Edaran itu sekaligus menjadi upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan transparansi, memastikan kepatuhan terhadap regulasi, dan memperkuat kepercayaan publik terhadap birokrasi daerah.

Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Sulaiman Harahap, mengatakan kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi membangun birokrasi yang bersih dan berintegritas. Ia menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam webinar yang diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Sumut bertema “Sucikan Hati, Teguhkan Integritas, Tolak Gratifikasi.” Kegiatan tersebut berlangsung secara daring dari Ruang Rapat Sekretaris Daerah, Kantor Gubernur Sumut di Medan, Senin, 16 Maret 2026.

“Pemberantasan korupsi harus dimulai dari pembangunan kesadaran batin, yakni kejujuran dalam diri setiap individu,” kata Sulaiman.

Menurut dia, pemahaman mengenai gratifikasi harus menjadi pengetahuan dasar bagi setiap aparatur sipil negara. ASN perlu memahami batasan gratifikasi, kewajiban pelaporan, serta mekanisme pengendaliannya agar tidak terjebak dalam praktik yang melanggar hukum.

Ia menilai kegiatan pembinaan seperti webinar tersebut penting karena tidak hanya menjadi agenda peningkatan kapasitas aparatur, tetapi juga sarana membangun kesadaran kolektif serta memperkuat karakter birokrasi yang berintegritas.

Sulaiman berharap para peserta mengikuti kegiatan tersebut secara aktif dan terbuka. Ia menilai forum itu dapat menjadi ruang belajar sekaligus refleksi bagi aparatur negara untuk memperkuat komitmen dalam mencegah gratifikasi.

“Setiap aparatur harus berani menolak gratifikasi, bekerja sesuai regulasi, menjaga profesionalitas dan akuntabilitas, serta memastikan setiap keputusan birokrasi dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan hukum,” ujarnya.

Dalam forum yang sama, widyaiswara dari Komisi Pemberantasan Korupsi, Manoto Togatorop, menjelaskan bahwa integritas aparatur dapat dijaga melalui berbagai langkah. Di antaranya dengan membangun reputasi yang baik, melindungi diri dari konflik kepentingan, menegakkan nilai integritas dalam tim kerja, serta terus memperbaiki diri.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi mengenai penggunaan media sosial bagi aparatur dan keluarga, penguatan nilai integritas, pola konsumsi yang sehat, serta kepemimpinan yang mendorong akuntabilitas dalam organisasi.

Menurut Manoto, gratifikasi secara umum terbagi dalam dua kategori. “Pertama, gratifikasi yang wajib dilaporkan dan kedua, gratifikasi yang tidak wajib dilaporkan,” katanya.

Webinar tersebut diikuti ribuan aparatur sipil negara dari 33 kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Diskusi yang berlangsung secara daring itu menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat sistem pencegahan korupsi di lingkungan birokrasi. (red)

Berita Terkait

Dugaan Kayu Hutan Hatonduhan Masuk Pematangsiantar, Sejumlah Sawmill Diminta Buka Dokumen
Wesly Silalahi Terima Pokok Pikiran DPRD Pematangsiantar, Prioritas dan Kemampuan Anggaran Jadi Pertimbangan
Perambahan Hutan Hatonduhan, Kepala KPH Pematangsiantar Janji Turunkan Petugas Ke Lokasi
Perambahan Hutan Hatonduhan Disorot DPRD Sumut, Komisi A Minta Laporan Resmi KPH
Kasat Lantas Polres Simalungun Gelar Pelatihan Safety Riding di PT Aice Sei Mangkei, Laka Lantas Turun 30 Persen Selama Operasi Patuh Toba 2026
BPKP Dorong Transparansi Dana Desa, 200 Camat dan Pangulu Ikuti Workshop di Simalungun
Asahan Raih Nilai 97,30 Kategori Istimewa, KPK Temukan 11 Pejabat Belum Lapor LHKPN
Rakernas III PJS Tetapkan Tujuh Rekomendasi, Targetkan UKW di 26 Provinsi

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:21 WIB

Dugaan Kayu Hutan Hatonduhan Masuk Pematangsiantar, Sejumlah Sawmill Diminta Buka Dokumen

Kamis, 5 November 2026 - 21:22 WIB

Wesly Silalahi Terima Pokok Pikiran DPRD Pematangsiantar, Prioritas dan Kemampuan Anggaran Jadi Pertimbangan

Kamis, 5 November 2026 - 21:11 WIB

Perambahan Hutan Hatonduhan, Kepala KPH Pematangsiantar Janji Turunkan Petugas Ke Lokasi

Kamis, 5 November 2026 - 20:04 WIB

Perambahan Hutan Hatonduhan Disorot DPRD Sumut, Komisi A Minta Laporan Resmi KPH

Kamis, 5 November 2026 - 18:30 WIB

BPKP Dorong Transparansi Dana Desa, 200 Camat dan Pangulu Ikuti Workshop di Simalungun

Kamis, 5 November 2026 - 17:40 WIB

Asahan Raih Nilai 97,30 Kategori Istimewa, KPK Temukan 11 Pejabat Belum Lapor LHKPN

Kamis, 5 November 2026 - 17:25 WIB

Rakernas III PJS Tetapkan Tujuh Rekomendasi, Targetkan UKW di 26 Provinsi

Kamis, 5 November 2026 - 17:15 WIB

KPK Beri Nilai 97,30 Persen kepada Pemkab Asahan, Sejumlah Catatan Perbaikan Tetap Disampaikan

Berita Terbaru