ATAPKOTA.COM, JAKARTA – Menjelang perayaan Idulfitri 2026, pemerintah menggelar kegiatan sosial yang menyasar anak-anak panti asuhan sebagai bagian dari penguatan perlindungan sosial. Kegiatan tersebut berlangsung di Jakarta, Senin (16 Maret 2026), dengan menghadirkan pengalaman berbelanja langsung bagi anak-anak yang selama ini hidup dalam pengasuhan lembaga.
Gibran Rakabuming Raka selaku Wakil Presiden memimpin langsung kegiatan yang melibatkan anak-anak dari Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Putra Utama 1, 2, dan 3. Mereka diajak berbelanja pakaian di sebuah gerai ritel di kawasan Blok M Plaza.
Sekitar 100 anak mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diberi kesempatan memilih sendiri pakaian yang diinginkan, sebuah pengalaman yang tidak selalu mereka dapatkan dalam keseharian di panti.
Suasana di dalam gerai dipenuhi antusiasme. Anak-anak tampak memilih pakaian dengan pendampingan pengasuh. Aktivitas sederhana ini menjadi ruang ekspresi sekaligus pengalaman belajar mengambil keputusan secara mandiri.
Salah satu anak, berinisial S, mengungkapkan kegembiraannya. Demi menjaga privasi anak sesuai prinsip pemberitaan ramah anak, identitas lengkap tidak dipublikasikan.
“Senang bisa jalan-jalan dan memilih baju sendiri. Ini pengalaman yang menyenangkan,” ujarnya.
Pendamping anak dari panti menyebut kegiatan tersebut membantu memenuhi kebutuhan dasar anak sekaligus memberikan pengalaman sosial di luar lingkungan panti.
Selain kebutuhan pakaian, sejumlah anak juga menyampaikan harapan agar dukungan serupa dapat mencakup perlengkapan sekolah. Hal ini menunjukkan masih adanya kebutuhan lain yang perlu mendapat perhatian berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda pemerintah dalam memperkuat perlindungan anak dan kesejahteraan sosial di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berbasis bantuan, tetapi juga pengalaman yang membangun kepercayaan diri anak.
Momentum Ramadan dan Lebaran dimanfaatkan sebagai ruang untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, empati sosial, serta optimisme bagi anak-anak yang berada dalam pengasuhan lembaga.
Melalui kegiatan ini, negara berupaya hadir tidak hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga melalui interaksi langsung yang memberi dampak emosional dan sosial bagi anak-anak. (Edo/red)
































