Krisis Air Ancam Gagal Panen, Petani Nurussalam Aceh Timur Tuntut Irigasi Darurat

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Selasa, 15 Juli 2025 - 12:50 WIB

40283 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi lahan sawah warga yang mengalami kekeringan. Minggu, (13/07/2025) (Foto : Tarmizi)

Kondisi lahan sawah warga yang mengalami kekeringan. Minggu, (13/07/2025) (Foto : Tarmizi)

ATAPKOTA.COM, ACEH TIMUR – Kesedihan menyelimuti wajah petani di Kecamatan Nurussalam dan Darul Falah, Aceh Timur. Lahan sawah yang biasanya hijau kini berubah menjadi retakan tanah kering yang menganga seperti luka tak tersembuhkan.

Sudah dua bulan para petani menanam padi dengan harapan panen berhasil. Namun, kemarau panjang menghancurkan impian itu. Musim tanam terancam gagal total.

“Kering, retak. Padinya sudah mulai kuning, belum waktunya,” keluh Sipa, warga Baroh Bugeng, sambil menatap ladang yang mengering. Minggu, (13/7/2025).

Di kawasan Ulee Ateung, Blang Bugeng, dan Asan Tanjong, sawah-sawah telah lama tak tersentuh air. Padahal, padi-padi yang tumbuh sedang memasuki fase vegetatif—fase penting menjelang pembungaan. Tanpa irigasi, seluruh upaya jadi sia-sia.

Nurussalam selama ini mengandalkan hujan karena tidak memiliki sistem irigasi permanen. Saat hujan tak turun, petani pun kehilangan satu-satunya harapan mereka.

“Payanya pun kering. Tidak ada lagi air yang bisa disedot,” ujar Ahmat, petani dari Gampong Keude Bagok Dua.

Matahari menyengat tanpa henti. Hujan hanya datang gerimis sesaat, tak cukup menyuburkan tanah. Usaha memberi pupuk dan pestisida tak bisa menyelamatkan tanaman tanpa pasokan air.

Gagal panen bukan hanya kehilangan hasil pertanian. Itu berarti kehilangan penghasilan, keputusasaan, dan ancaman kelangsungan hidup.

“Kalau tidak turun hujan dalam waktu dekat, kami kehilangan segalanya,” ungkap seorang petani.

Mereka telah mengeluarkan modal besar—dari biaya bajak, tanam, hingga pestisida. Kini, semua terancam lenyap. Lebih parah lagi, kondisi ini membuka mata pada ketimpangan infrastruktur pertanian. Gampong-gampong di Nurussalam belum memiliki sistem irigasi memadai.

Harga pupuk meroket, biaya hidup naik, dan cuaca kian tak menentu. Para petani hanya bisa menatap langit dan menunggu keajaiban.

Para petani tak meminta belas kasih, mereka menuntut kebijakan dan bantuan konkrit. Mereka mendesak pemerintah untuk menyediakan:

  • Sumur bor atau embung darurat

  • Sistem irigasi mikro

  • Bantuan pertanian langsung

Kepala UPTD Pertanian Nurussalam, Muhammad, menyebut pihaknya sudah melapor ke Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Timur dan ke Distanbun Provinsi Aceh.

“Nurussalam sudah kita lapor beberapa hari lalu,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Sementara itu, Azhar, anggota DPRK Aceh Timur asal Nurussalam, mengonfirmasi bahwa dewan akan membentuk pansus percepatan pembangunan irigasi sayap kanan Aceh Timur.

Beberapa tokoh masyarakat turut menyuarakan krisis ini di forum WhatsApp Kecamatan Nurussalam. Ketua PWI Aceh Timur Ilyas Ismail, tokoh masyarakat Isra, dan organisasi media PWDPI ikut mendorong penyelesaian cepat.

Ishak, tokoh muda, mengusulkan reaktivasi Bendungan Paya Enjee seluas 10 hektare untuk menampung air dan mengairi sawah saat kemarau.

“Kalau bendungan ini diaktifkan, bisa jadi pusat irigasi mikro,” ujarnya dalam forum tersebut.

Kini, yang tersisa hanyalah waktu dan harapan. Para petani menatap langit dengan getir. Mereka tak ingin menyalahkan cuaca, tapi mereka kecewa karena kebijakan tak hadir secepat krisis.

“Ini bukan soal panen saja. Ini soal hidup kami,” ujar Ahmat, memandangi batang padi yang menguning di ladang retaknya.

Wartawan : Tarmizi/ Hasbi/ kr

Berita Terkait

17 Rekomendasi BPK Belum Ditindaklanjuti, BEM-TR Tantang Komitmen Zero Defisit Pemko Subulussalam
Di Balik Sukses PRAPORA 2026, Tgk Ali Akbar Dinilai Jadi Motor Penggerak Tarung Derajat Aceh
175 Calon Bintara Polri Ikuti Rikkes Tahap II di Polda Aceh
Gagal Selundupkan 4 Kg Sabu Lewat Bandara, Empat Tersangka Diamankan
ForBINA Minta Konflik Pengolahan Gas Blok Andaman Diselesaikan Lewat Win-Win Solution
Ketua Pemuda Pancasila Aceh Utara Minta Aceh Dilibatkan Lebih Besar di Proyek South Andaman
PTPN IV Regional VI Unit Kebun Baru Sembelih 8 Hewan Kurban pada Iduladha 1447 H
Enam Bulan Pascabanjir Aceh Utara, Ibu Muda Kesulitan Penuhi Kebutuhan Bayi

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 21:18 WIB

Hadiri HUT ke-46 Dekranas, Kahiyang Ayu Dorong Kriya dan Wastra Sumut Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 - 13:17 WIB

Polres Pelabuhan Belawan Intensifkan Patroli Malam, Antisipasi Curas, Curat, dan Curanmor

Sabtu, 11 Juli 2026 - 12:14 WIB

Tinjau Tol Prosiwangi, Wapres Gibran Dorong Percepatan Konektivitas dan Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur

Sabtu, 11 Juli 2026 - 10:25 WIB

Bupati Simalungun Tinjau Pematang Silimahuta, Serap Aspirasi dan Beri Solusi Langsung untuk Warga

Jumat, 10 Juli 2026 - 23:20 WIB

Bupati Asahan Hadiri Pisah Sambut Danlanal Tanjung Balai Asahan, Tegaskan Pentingnya Sinergi Forkopimda

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:59 WIB

Pemko Pematangsiantar Hadiri Pembukaan Rapat Sinode Kerja ke-48 Gereja Pentakosta, Dorong Sinergi Bangun Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 - 21:40 WIB

Universitas Asahan dan Pemkab Asahan Teken MoU, Perkuat Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk Pembangunan Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 - 21:30 WIB

Bobby Nasution Apresiasi SMA Negeri 1 Matauli Pandan, Sekolah Negeri Pertama di Indonesia Raih Otorisasi IB

Berita Terbaru

Kapolda Sumut menerima audiensi MPKW Sumut–Aceh.

REGIONAL

Kapolda Sumut Dukung Rakernas V MPK Indonesia di Tarutung

Minggu, 12 Jul 2026 - 01:33 WIB