ATAPKOTA.COM, JAKARTA – Sekretaris Jenderal DPP Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP), Boy Nababan, memuji langkah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang membawa Indonesia resmi bergabung dalam BRICS. Ia menyebut keputusan ini sebagai “langkah berani” yang mencerminkan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan mengedepankan kepentingan nasional.
“Keputusan ini sangat strategis. Masuknya Indonesia ke BRICS memperkuat posisi kita dalam tatanan dunia multipolar tanpa meninggalkan prinsip non-blok,” ujar Boy Nababan dalam pernyataan siaran persnya di Jakarta, Rabu (31/7).
Boy menegaskan, langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak condong ke salah satu blok kekuatan global, baik Barat maupun Timur, melainkan menempatkan diri sebagai kekuatan mandiri yang memperjuangkan kepentingan negara berkembang.
“Kami melihat BRICS sebagai wadah yang memberi ruang lebih besar bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk bersuara dan membentuk tatanan global yang lebih adil,” jelasnya.
Menurut Boy, posisi Indonesia di BRICS membuka peluang strategis, mulai dari peningkatan pengaruh geopolitik hingga potensi penguatan ekonomi melalui akses ke pasar dan pendanaan alternatif dari negara-negara anggota.
“BRICS menyumbang lebih dari 37% GDP dunia. Ini potensi besar bagi Indonesia untuk memperkuat kerja sama Selatan-Selatan dan mendorong pembiayaan proyek pembangunan melalui New Development Bank,” ungkapnya.
Namun, Boy Nababan juga mengingatkan bahwa pemerintah perlu bersikap cermat terhadap potensi friksi dengan mitra Barat serta perbedaan sistem politik dan kepentingan antaranggota BRICS.
“Tantangan pasti ada. Tapi kami percaya, selama Indonesia konsisten menjaga prinsip demokrasi dan keterbukaan, manfaat dari BRICS akan lebih besar dari risikonya,” katanya.
Bara JP, kata Boy, telah menyusun catatan strategis untuk mendukung keberhasilan langkah ini, termasuk mendorong kerja sama ekonomi riil antarnegara anggota BRICS, memperjuangkan akses pasar yang adil, serta memperluas kolaborasi dalam bidang sumber daya manusia, riset, dan keamanan.
“Yang penting, BRICS tidak jadi simbol belaka. Harus ada kerja sama nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat Indonesia,” tegas Boy.
Di akhir pernyataannya, Boy Nababan menegaskan bahwa Indonesia tetap harus membuka ruang kerja sama dengan negara-negara Barat demi menjaga keseimbangan diplomatik.
“Bergabung dengan BRICS bukan berarti kita menutup pintu ke Barat. Politik luar negeri kita tetap bebas aktif. Yang utama, kita harus diperlakukan secara adil dan setara,” tutupnya.
Wartawan : Andrew /kr

































