ATAPKOTA.COM, KOREA UTARA — Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, bertemu langsung dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Sabtu (12/7), di Wonsan. Dalam pertemuan tersebut, Pyongyang menegaskan kembali dukungan penuh terhadap invasi Rusia ke Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.
Kementerian Luar Negeri Rusia membagikan momen jabat tangan dan pelukan antara Lavrov dan Kim melalui Telegram. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian diplomasi tingkat tinggi Moskow ke Korea Utara, yang kini menjadi sekutu militer strategis Rusia dalam menghadapi tekanan Barat.
“Teman-teman kami di Korea mengonfirmasi dukungan teguh terhadap semua tujuan dari operasi militer Rusia,” ujar Lavrov, dikutip kantor berita TASS.
Lavrov juga mengucapkan terima kasih kepada tentara Korea Utara yang disebutnya sebagai “pahlawan”. Pernyataan itu merujuk pada ribuan tentara Korea Utara yang dikerahkan ke wilayah perbatasan Rusia-Ukraina, khususnya di Kursk.
Menurut intelijen Inggris yang dilansir dari Aljazeera, lebih dari 6.000 tentara Korea Utara tewas dalam pertempuran mendukung Rusia. Selain itu, Pyongyang juga telah mengirimkan 6.000 insinyur militer dan pekerja konstruksi untuk membantu rekonstruksi infrastruktur yang hancur akibat perang.
Korea Selatan memperingatkan bahwa Korea Utara kemungkinan besar akan mengirim lebih banyak pasukan pada Juli atau Agustus. Sementara itu, Amerika Serikat dan Korea Selatan khawatir Kim akan meminta imbal balik berupa transfer teknologi militer dari Moskow.
Pada April lalu, Rusia dan Korea Utara mengonfirmasi secara resmi pengerahan pasukan militer Korut ke Rusia. Dalam pernyataan lanjutan, Rusia menyebut pasukan itu berperan dalam merebut kembali wilayah Kursk — klaim yang dibantah keras oleh Ukraina.
Kim Jong Un bahkan tampil dalam media pemerintah Korea Utara, memberikan penghormatan kepada peti jenazah tentara Korut yang diselimuti bendera nasional. Hubungan kedua negara terus menguat, terutama setelah kunjungan Presiden Vladimir Putin ke Pyongyang pada November tahun lalu.
Kunjungan tersebut menghasilkan kesepakatan militer besar, termasuk klausul pertahanan bersama yang memungkinkan intervensi langsung apabila salah satu negara diserang.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa bantuan militer dari Amerika Serikat telah kembali dikirimkan. Pentagon sebelumnya sempat menghentikan pengiriman karena keterbatasan stok. Utusan khusus AS, Keith Kellogg, dijadwalkan mengunjungi Kyiv pekan depan.
“Kami menyambut baik bantuan baru dari mitra strategis kami di AS,” ujar Zelenskyy dalam pidato malamnya.
Pertemuan Lavrov dan Kim menegaskan tumbuhnya aliansi strategis antara dua negara bersenjata nuklir yang sama-sama menghadapi isolasi internasional. Situasi ini dinilai berpotensi mengubah dinamika konflik global secara drastis, termasuk di kawasan Indo-Pasifik. (*)

































