ATAPKOTA.COM, MALANG – Tradisi barik’an kembali digelar warga RT 13 Desa Srigonco, Kecamatan Bantur sebagai ungkapan syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan. Jum’at, (18/7/2025).
Kegiatan adat tahunan ini bukan sekadar ritual, tetapi juga cermin kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
Acara barik’an digelar secara gotong royong di halaman rumah warga. Rangkaian prosesi dimulai dengan membawa berbagai makanan hasil olahan rumah tangga, lalu dikumpulkan, didoakan bersama, dan disantap secara berjamaah.
Tradisi ini menjadi ruang sakral yang mengikat warga dalam iklim kekeluargaan, kebersamaan, dan spiritualitas.
“Barik’an bukan sekadar makan bersama, melainkan cara kami menjaga hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama,” ujar salah satu tokoh warga.
Tradisi ini telah mengakar puluhan tahun di tengah masyarakat Srigonco. Nilai-nilai luhur seperti tolong-menolong, syukur kolektif, dan saling menghormati masih dijunjung tinggi dalam pelaksanaannya.
Bahkan dalam era modern, barik’an tetap eksis dan menjadi momen perekat sosial.
Kegiatan ini semakin semarak dengan kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Kelompok 58 Universitas Brawijaya.
Para mahasiswa tak hanya hadir sebagai tamu, tetapi turut berbaur, membantu persiapan, dan menyerap nilai budaya yang dijalankan warga.
“Kami sangat mengagumi tradisi barik’an ini. Ada nilai gotong royong, kebersamaan, dan spiritualitas yang sangat kuat,” ujar salah satu mahasiswa KKN.
Bagi warga, kehadiran generasi muda adalah harapan bahwa tradisi ini tak akan punah.
Sementara bagi mahasiswa, pengalaman mengikuti barik’an menjadi pelajaran nyata tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Acara berlangsung lancar dan ditutup dengan makan bersama yang penuh kehangatan. Semangat gotong royong dan rasa syukur menyatu dalam barik’an, menjadikannya bukan hanya ritual tahunan, melainkan simbol ketahanan budaya lokal Desa Srigonco.(*)
Wartawan: Arifpin Setro /PR

































