ATAPKOTA.COM – Setiap orang tua mendambakan anak yang rajin belajar, tekun bekerja, dan memiliki pengetahuan luas. Namun, bagi orang percaya, kerajinan dan pengetahuan bukan hanya sekadar pencapaian duniawi. Semua itu harus diarahkan untuk memuliakan Tuhan dan menjadi kesaksian hidup.
Alkitab menegaskan pentingnya kerajinan. Amsal 10:4 berkata: “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” Kerajinan adalah tanda kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketekunan yang mencerminkan karakter Kristus.
Yesus sendiri memberikan teladan luar biasa. Sejak kecil, Ia dikenal sebagai pribadi yang penuh hikmat.
Lukas 2:52 mencatat: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Artinya, Yesus tidak hanya rajin bekerja, tetapi juga bertumbuh dalam pengetahuan, hikmat, dan karakter.
Kerajinan tidak hanya berbicara soal pekerjaan fisik, tetapi juga sikap hati dalam belajar dan mengembangkan diri.
Anak yang rajin menghargai waktu, tidak malas, dan mau berjuang untuk mencapai tujuan. Kerajinan adalah investasi masa depan yang memuliakan Tuhan.
Pengetahuan sejati bukan hanya dari buku atau sekolah, tetapi juga berasal dari takut akan Tuhan.
Amsal 1:7 menegaskan: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan.” Anak yang berpengetahuan, tetapi tidak memiliki hikmat, akan mudah tersesat. Tetapi anak yang rajin dan takut akan Tuhan akan dipenuhi hikmat untuk hidup benar.
Bayangkan seorang anak yang rajin belajar setiap hari, tidak hanya untuk meraih nilai tinggi, tetapi juga untuk memahami kebenaran firman Tuhan. Anak ini tidak sekadar pintar dalam matematika atau sains, tetapi juga bijak dalam memilih teman, berkata jujur, dan membantu orang lain. Itulah gambaran nyata teladan Kristus yang bisa diterapkan dalam hidup sehari-hari.(*)
Renungan : Tim Redaksi

































