ATAPKOTA.COM – Firman Tuhan kerap dikumandangkan di mimbar, ruang ibadah, dan media sosial. Namun, realitas kehidupan sering menunjukkan ironi yang menyakitkan. Banyak orang fasih mengutip ayat suci, tetapi perilaku sehari-hari justru menafikan nilai yang mereka ajarkan. Ketika perkataan tidak sejalan dengan perbuatan, ajaran iman kehilangan wibawanya.
Yesus dengan tegas menyinggung persoalan ini. Dalam Injil Matius 7:21 tertulis, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” Ayat ini menegaskan bahwa iman sejati tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi harus terwujud dalam tindakan nyata.
Masalah ketidaksinkronan antara firman dan perbuatan bukan fenomena baru. Alkitab berulang kali memperingatkan bahaya kemunafikan rohani. Rasul Yakobus menulis dengan sangat jelas, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yakobus 1:22). Firman Tuhan menuntut respons aktif, bukan sekadar pemahaman intelektual.
Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit pemimpin rohani maupun umat yang terjebak pada simbol dan retorika. Firman disampaikan dengan lantang, tetapi keadilan diabaikan. Kasih dikhotbahkan, tetapi kebencian dipelihara. Kejujuran diajarkan, tetapi manipulasi justru dipraktikkan. Ketika hal ini terjadi, iman berubah menjadi topeng, bukan jalan hidup.
Yesus bahkan mengecam keras perilaku seperti ini. Dalam Matius 23:27-28, Ia berkata, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu seumpama kuburan yang dilabur putih… demikian jugalah kamu, kamu nampaknya benar di luar, tetapi di dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurhakaan.” Teguran ini relevan hingga hari ini, terutama ketika agama dijadikan alat legitimasi, bukan sarana pertobatan.
Firman Tuhan sejatinya adalah pedoman moral yang hidup. Mazmur 119:105 menyatakan, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Pelita tidak berguna jika hanya disimpan. Terang tidak berarti jika tidak digunakan untuk berjalan. Demikian pula firman kehilangan makna ketika tidak diwujudkan dalam sikap, keputusan, dan relasi sosial.
Pengkhianatan terhadap ajaran iman sering melahirkan dampak sosial yang luas. Ketika umat melihat keteladanan yang rapuh, kepercayaan runtuh. Generasi muda menjadi skeptis. Masyarakat memandang agama sebagai formalitas, bukan kekuatan transformasi. Padahal, Yesus menegaskan bahwa kesaksian iman diukur dari buahnya. “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik” (Matius 7:17).
Firman dan perbuatan tidak boleh dipisahkan. Rasul Paulus mengingatkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2). Pembaruan iman harus tercermin dalam karakter, integritas, dan keberpihakan pada kebenaran.
Akhirnya, refleksi ini mengajak setiap orang beriman untuk bercermin. Apakah firman hanya berhenti di bibir, atau sungguh hidup dalam tindakan? Iman yang sejati selalu berbuah dalam kasih, keadilan, dan kejujuran. Tanpa itu, firman yang dikumandangkan justru menjadi ajaran yang dikhianati. (*)
Oleh : TIM REDAKSI































