ATAPKOTA.COM, MEDAN – Program Rabu Walk In Interview yang digagas Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Ketenagakerjaan mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Kegiatan rekrutmen terbuka yang rutin digelar di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Medan itu dinilai sebagai langkah inovatif dalam mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan secara langsung, seperti yang berlangsung Rabu (11 Maret 2026).
Sejumlah pihak menilai program tersebut tidak sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebijakan yang dinilai lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam membuka akses informasi pekerjaan.
Apresiasi datang dari akademisi Universitas Sumatera Utara, Dr. Fernanda Putra Adela, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ia menilai langkah Pemerintah Kota Medan merupakan respons terhadap persoalan klasik di pasar tenaga kerja, yakni ketimpangan informasi antara perusahaan dan pencari kerja.
Menurut Fernanda, kondisi tersebut sering memunculkan paradoks di dunia kerja: perusahaan mengaku kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang sesuai, sementara angka pengangguran di sisi lain masih relatif tinggi.
“Program ini secara langsung menjembatani kesenjangan informasi tersebut. Akses terhadap lowongan kerja menjadi lebih terbuka dan demokratis bagi seluruh masyarakat,” ujar Fernanda.
Ia menjelaskan, selama ini informasi peluang kerja sering kali hanya beredar pada platform tertentu atau jaringan internal perusahaan sehingga tidak semua pencari kerja dapat mengaksesnya secara mudah.
Dengan adanya kegiatan rekrutmen rutin yang digelar setiap pekan, menurutnya, masyarakat kini memiliki ruang yang lebih jelas untuk mencari pekerjaan tanpa harus menunggu kegiatan bursa kerja yang biasanya hanya digelar dalam waktu tertentu.
Fernanda juga menilai program tersebut mencerminkan perubahan pendekatan birokrasi dalam pelayanan publik di Kota Medan.
Menurutnya, di bawah kepemimpinan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, pemerintah kota mulai mengadopsi pendekatan yang lebih proaktif dan inklusif dalam merespons kebutuhan masyarakat.
“Pemerintah tidak lagi hanya menunggu masyarakat datang membawa persoalan, tetapi aktif menghadirkan solusi yang lebih terstruktur dan mudah diakses,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kehadiran program ini memberikan kepastian bagi pencari kerja mengenai waktu dan tempat untuk memperoleh informasi serta peluang kerja secara langsung.
Meski demikian, Fernanda juga memberikan sejumlah masukan agar program tersebut dapat terus diperkuat. Salah satunya dengan memperluas keterlibatan sektor industri sehingga peluang kerja yang tersedia dapat menjangkau berbagai latar belakang pendidikan dan keterampilan.
Selain itu, ia juga mendorong pemerintah kota untuk mempercepat rencana perluasan program ke wilayah lain di Kota Medan, termasuk kawasan Medan Utara dan daerah pinggiran kota.
Langkah tersebut dinilai penting agar masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat kota tetap dapat mengakses peluang kerja tanpa harus terkendala jarak.
Fernanda meyakini bahwa pelaksanaan Rabu Walk In Interview secara rutin setiap pekan merupakan inovasi yang relatif baru di Indonesia.
Ia berharap program tersebut dapat menjadi contoh bagi pemerintah daerah lain dalam merancang kebijakan yang mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan ketenagakerjaan.
“Dengan sinergi yang baik antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, target penempatan 10.000 tenaga kerja pada tahun 2026 bukan hanya dapat tercapai, tetapi berpotensi melampaui target,” ujarnya. (Mery/red)































