ATAPKOTA.COM, PEMATANGSIANTAR – Seorang pria bernama Jaka Jannes Malau (24) meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sekitar enam orang yang disebut sebagai anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.
Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Taman Bunga, Jalan WR Supratman, Kecamatan Siantar Barat, pada 28 Mei 2026. Dalam penanganan kasus ini, pihak kepolisian telah mengamankan dua orang pelaku, masing-masing Franky Silaen (30) dan Rohit Panjaitan (24), sementara sejumlah pelaku lainnya masih dalam pengejaran.
Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Sandi Riz Akbar menjelaskan bahwa peristiwa tersebut berawal dari perselisihan antara seorang pembuat tato berinisial MS dengan salah satu terduga pelaku berinisial RS (DPO) terkait biaya jasa pembuatan tato.
“Awalnya terjadi komplain terkait biaya pembuatan tato sebesar Rp600 ribu. Dari situ kemudian muncul perselisihan yang berkembang menjadi peristiwa lain,” ujar AKP Sandi.
Dalam perkembangan kejadian, RS mendatangi MS yang berada di kawasan Taman Bunga, kemudian membawa yang bersangkutan ke lokasi lain di sekitar Taman Hewan Pematangsiantar. Di lokasi tersebut, RS bertemu dengan beberapa orang lainnya yang kemudian ikut dalam rangkaian peristiwa.
Setelah terjadi cekcok, rombongan kembali bergerak menuju kawasan Taman Bunga. Di lokasi tersebut, RS diduga keliru mengidentifikasi korban Jaka Jannes Malau sebagai rekan dari MS.
“Tanpa dilakukan klarifikasi, korban diduga langsung dituduh sebagai rekan dari pembuat tato tersebut, sehingga terjadi kesalahpahaman yang berujung pada pengeroyokan,” jelasnya.
Korban sempat berusaha memberikan klarifikasi bahwa dirinya tidak terlibat dalam persoalan tersebut. Namun, para pelaku tetap melakukan penganiayaan hingga korban mengalami luka berat.
Usai kejadian, korban sempat dilarikan ke RS Vita Insani Pematangsiantar, kemudian dirujuk ke RSUD Djasamen Saragih karena kondisinya kritis. Namun, korban dinyatakan meninggal dunia pada 29 Mei 2026 sekitar pukul 15.00 WIB.
Berdasarkan hasil autopsi, korban meninggal akibat pendarahan pada bagian belakang kepala yang menyebabkan cedera serius pada otak.
“Dari hasil pemeriksaan medis, korban meninggal akibat pendarahan di bagian otak belakang,” kata AKP Sandi.
Polisi menyebutkan bahwa terdapat sekitar enam orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut. Dua orang telah ditangkap, sementara empat lainnya masih dalam pengejaran dan telah ditetapkan sebagai tersangka.
Pihak kepolisian juga mengungkapkan bahwa para pelaku diduga memiliki keterkaitan dengan salah satu organisasi kemasyarakatan. Namun, penyidik masih mendalami peran masing-masing pelaku dalam peristiwa tersebut.
AKP Sandi menegaskan bahwa korban diduga merupakan sasaran yang keliru dalam insiden tersebut.
“Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, korban diduga bukan target utama, melainkan salah sasaran dalam peristiwa ini,” pungkasnya. (red)

































