ATAPKOTA.COM, PEMATANGSIANTAR – Sabtu itu, langit seperti sengaja membuka tirainya lebih lebar. Udara pagi menyapa lembut para kader Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kelurahan Kahean yang berkumpul dengan wajah cerah dan tawa ringan.
Pada Sabtu, 7 Februari 2026, family gathering bukan sekadar agenda rekreasi, melainkan peristiwa kecil yang meninggalkan jejak besar di hati para perempuan tangguh ini. Dua destinasi dipilih: hijaunya Kebun Teh Sidamanik dan birunya Danau Toba di Pantai Salbe, Tigaras, Kabupaten Simalungun.
Sekitar pukul 08.30 WIB, rombongan bertolak dari Kantor Kelurahan Kahean. Tak ada jarak antara pimpinan dan kader. Semua melebur dalam canda yang mengalir sepanjang perjalanan. Ketika kendaraan berhenti di Kebun Teh Sidamanik, mata dimanjakan hamparan hijau sejauh pandang, seolah alam ikut merayakan pertemuan mereka.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Pantai Salbe, Tigaras. Namun yang membuat kisah ini istimewa bukan hanya tujuan wisatanya, melainkan cara kebersamaan itu diwujudkan. Seluruh rangkaian kegiatan dibiayai dari dana swadaya, hasil keikhlasan Lurah Kahean dan para kader PKK. Tak ada anggaran pemerintah yang terlibat, hanya semangat gotong royong yang bekerja dalam diam.
Tak selalu uang besar penentu bahagia, Terkadang niat tulus jadi jawabnya.
Dari swadaya lahir rasa bangga, Kebersamaan tumbuh tanpa pamrih apa-apa.
Sesampainya di Pantai Salbe, suasana berubah menjadi panggung tawa. Family gathering ini dirancang sebagai ruang bermain sekaligus ruang belajar. Perlombaan demi perlombaan digelar, mulai dari lomba tebak kata dengan gerakan yang memancing gelak, lomba memindahkan karet dengan sedotan yang menguji fokus, joget TikTok yang mencairkan suasana, hingga lomba menciptakan yel-yel dadakan yang penuh spontanitas.
Para peserta dibagi ke dalam lima tim, masing-masing beranggotakan lima orang. Tidak ada tekanan untuk menang, tidak ada sorak sorai berlebihan untuk kalah. Yang ada hanyalah kerja sama, komunikasi, dan rasa saling menguatkan, nilai yang selama ini menjadi napas gerakan PKK.
Bukan soal siapa paling depan, Bukan pula siapa paling hebat.
Dalam tim semua punya peran, Kebersamaanlah yang paling tepat.
Setelah perlombaan usai, kisah pun bercabang. Sebagian kader memilih menyeberangi Danau Toba dengan kapal menuju Goa Babaliang, menikmati sensasi petualangan kecil di atas air. Sementara yang lain tetap tinggal di Pantai Salbe, bernyanyi bersama, merendam kaki, bahkan berenang ringan, membiarkan lelah luruh bersama riak danau.
Danau luas memantulkan senyum, Air tenang jadi saksi cerita.
Ada yang berlayar mengejar rindu, Ada yang tinggal menikmati rasa.
Di balik keceriaan itu, tersimpan pesan sederhana namun kuat: organisasi perempuan di tingkat kelurahan juga butuh ruang untuk bernapas, tertawa, dan saling menguatkan. Tanpa muatan politik, tanpa kepentingan komersial, family gathering ini menjadi cara PKK Kahean menjaga soliditas dan semangat pengabdian.
Bukan rapat, bukan pula seremoni, Tapi hati yang saling terhubung.
Dari tawa lahir energi, Untuk kembali melayani dengan utuh.
Lurah Kahean, Aprita Pronika Sagala, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang sederhana namun bermakna.
“Kami ingin kader PKK merasa bahwa mereka adalah satu keluarga. Family gathering ini bukan tentang kemewahan, tetapi tentang kebersamaan, keikhlasan, dan rasa saling memiliki. Dari hati yang bahagia, akan lahir semangat pengabdian yang lebih kuat untuk masyarakat,” ujarnya. (Larsen/red)

































