ATAPKOTA.COM, SIMALUNGUN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun terus memperkuat langkah percepatan penanganan stunting melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi Konvergensi Penanganan Stunting Tahun 2026 yang digelar di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), Selasa (12/5/2026).
Rakor tersebut menjadi forum penyatuan komitmen seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat pelaksanaan program penanganan stunting secara terintegrasi dan berkelanjutan di Kabupaten Simalungun.
Kegiatan dibuka Sekretaris Bapperida, Lina Oletta Damanik, yang hadir mewakili Bupati Simalungun, Anton Achmad Saragih.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan stunting masih menjadi persoalan serius yang harus ditangani secara menyeluruh karena berdampak terhadap kualitas kesehatan dan perkembangan anak di masa depan.
Menurutnya, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak.
“Penanganan stunting harus dilakukan secara konvergensi, holistik, dan tepat sasaran melalui kerja sama seluruh pihak,” ujar Lina Oletta Damanik saat membacakan sambutan Bupati.
Bupati juga menekankan pentingnya lima aksi utama dalam percepatan penanganan stunting, yakni analisis situasi, penyusunan rencana kegiatan, penguatan pelaksanaan program, evaluasi hasil, serta penyusunan regulasi dan kebijakan pendukung.
Selain itu, Tim Satuan Tugas (Satgas) dan petugas pelaporan diminta bekerja lebih optimal, tertib administrasi, serta inovatif dalam memastikan program penanganan stunting masuk ke dalam dokumen perencanaan desa.
Dalam kesempatan itu, Hotdiaman Saragih menyampaikan rakor tersebut bertujuan memperkuat komitmen lintas sektor, menyelaraskan peran setiap perangkat daerah, serta memastikan ketepatan pelaporan melalui sistem Bangda.
Sementara itu, narasumber dari Bapperida, Ober Damanik, menegaskan pentingnya aksi nyata di lapangan menjelang evaluasi tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026.
Ia meminta Dinas Kesehatan memperkuat pengawasan terhadap pelaporan dari seluruh puskesmas agar data yang disampaikan tetap akurat dan tepat waktu.
Di sisi lain, perwakilan Dinas Kesehatan, Yeli F. Purba, mengungkapkan penanganan stunting di Kabupaten Simalungun sejauh ini berjalan cukup baik, meski masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain keterbatasan insentif kader, kerusakan alat ukur di 1.333 Posyandu, rendahnya partisipasi masyarakat, hingga distribusi makanan tambahan yang belum sepenuhnya optimal.
Seluruh masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan penyusunan strategi lanjutan guna memperkuat upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Simalungun.
Pemkab Simalungun berharap sinergi seluruh pihak dapat mendorong terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa mendatang. (AP/red)
































