Pengakuan Mengejutkan Eks Penghuni Rehabilitasi Rindung: Dirantai, Dipukul hingga Disuruh Minum Air Keran

REDAKSI ATAP KOTA.COM

- Redaksi

Senin, 18 Mei 2026 - 22:03 WIB

40481 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

6 dari 7 Eks Pasien Nazpa Rehabilitasi Rindung.

6 dari 7 Eks Pasien Nazpa Rehabilitasi Rindung.

ATAPKOTA.COM, PEMATANGSIANTAR — Sejumlah penghuni diduga kabur dari sebuah panti rehabilitasi di Kota Pematangsiantar dan mengungkap dugaan kekerasan serta perlakuan tidak manusiawi yang mereka alami selama menjalani rehabilitasi.

Salah seorang penghuni bernama Erwin mengaku kabur dari Yayasan Rehabilitasi Rindung di Jalan Rindung, Kota Pematangsiantar, pada Sabtu pagi, 16 Mei 2026 sekitar pukul 10.00 WIB bersama sejumlah penghuni lainnya.

Menurut pengakuannya, para penghuni diduga mengalami penyiksaan, perantaian menggunakan rantai besi, hingga pemukulan selama berada di lokasi rehabilitasi tersebut.

“Kami NAPZA, bukan ODGJ. Tapi kami dirantai pakai rantai besi. Kadang dipukul juga,” ujar Erwin kepada awak media.

Erwin mengaku menjalani rehabilitasi selama 22 hari dengan biaya sebesar Rp2,2 juta per bulan. Ia menyebut keberadaannya di tempat rehabilitasi itu hanya diketahui istrinya, sementara orang tuanya tidak mengetahui dirinya direhabilitasi.

Ia juga mengungkap dugaan penganiayaan yang dialaminya sejak hari pertama masuk rehabilitasi.

“Satu ruangan sekitar 13 orang memukuli saya sampai hidung saya pecah dan mimisan. Tidak diobati juga,” katanya sembari menunjukkan bekas luka di bagian hidung.

Selain dugaan kekerasan fisik, Erwin mengaku para penghuni kerap diperlakukan tidak layak. Mereka disebut minum air keran tanpa dimasak hingga menyebabkan diare dan sakit.

“Kalau kami minum selalu air dari keran. Saya sampai sering diare dan meriang, tapi tidak ditindak,” ujarnya.

Penghuni lain bernama Rudi turut memperagakan rantai yang disebut digunakan untuk mengikat kaki penghuni dengan baut ukuran 10.

“Kalau jalan lambat kami ditendang dari belakang,” tambah Erwin.

Sementara itu, penghuni lainnya bernama Hotman mengaku pernah melihat penghuni dirantai dari leher hingga kaki sehingga harus berjalan jongkok.

Mereka juga menuding pimpinan yayasan berinisial RD kerap memberikan arahan kepada penghuni dalam kondisi diduga mabuk sepulang minum tuak pada malam hari.

“Setiap malam sekitar pukul 21.30 WIB kami disuruh bangun dan berdiri menunggu bapak yayasan pulang,” kata Erwin.

Muhammad Agus Hendri, penghuni lain yang mengaku sudah direhabilitasi selama dua tahun tiga bulan, mengatakan sebanyak 10 orang sempat mencoba kabur dan tujuh di antaranya berhasil keluar.

“Kami lari ke arah Jalan Pisang Kipas lalu naik Grab ke Jalan Voli,” ujarnya.

Agus juga mengaku mengalami dugaan pemukulan selama berada di lokasi rehabilitasi. Ia bahkan menyebut pernah membantu memandikan jenazah penghuni yang meninggal dunia di tempat tersebut.

“Selama saya di sana, sekitar 40 orang meninggal dan saya ikut memandikan mayatnya sebelum dikubur,” katanya.

Sementara Richard Gultom mengaku telah menjalani rehabilitasi selama 21 bulan dan menyebut kondisi di tempat tersebut tidak manusiawi.

“Saya dirantai besi, dikurung lagi. Binatang saja tidak seperti itu,” ujar Richard.

Ia juga menuding adanya tindakan penghuni yang dipaksa saling menampar atas arahan pimpinan yayasan.

“Kalau kami tampar pelan, kami yang ditampar balik supaya melakukan lebih keras,” katanya.

Selain dugaan kekerasan, para penghuni juga mengeluhkan kondisi makanan yang disebut sering basi dan menu yang tidak layak.

“Kami sering makan ikan asin. Kadang dibilang daging ayam, padahal katanya daging biawak,” ujar Rudi.

Para penghuni berharap aparat penegak hukum segera mengusut dugaan kekerasan tersebut dan mengevakuasi penghuni lain yang masih berada di lokasi rehabilitasi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Yayasan Rehabilitasi Rindung maupun aparat terkait atas tudingan tersebut. (AP/red)

Baca Sebelumnya :

Penghuni Ungkap Dugaan Kematian Puluhan Orang di Panti Rehabilitasi Pematangsiantar

Berita Terkait

Kejar-kejaran di Pematangsiantar, Dua Warga Sumbar Diamankan Polisi Setelah Mobil Diduga Tabrak Sejumlah Pengguna Jalan
Dandim 0211/Tapanuli Tengah Wahyu Hidayat Bersedia Jadi Dewan Pembina DPC PJS Sibolga-Tapteng
Desa Sipaku Area Asahan Resmi Jadi Desa Binaan Imigrasi, Fokus Cegah TPPO dan PMI Nonprosedural
Jelang Rakernas PJS di Kepri, DPP Perkuat Konsolidasi dan Skema Gotong Royong
Kemendikdasmen Dampingi Program Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah di Medan, Airin Dorong Kolaborasi
Wapres Gibran Temui Pengungsi Gempa Sikka, Pastikan Kebutuhan Dasar dan Kelompok Rentan Terpenuhi
Tinjau Pelabuhan, Gereja, dan RSUD di Sikka, Wapres Gibran Soroti Fasilitas yang Perlu Segera Diperbaiki
Wapres Gibran Tinjau SD Inpres LXXVI Wairklau, Pastikan Pendidikan Anak Tetap Berjalan Pascabencana

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 20:40 WIB

Kejar-kejaran di Pematangsiantar, Dua Warga Sumbar Diamankan Polisi Setelah Mobil Diduga Tabrak Sejumlah Pengguna Jalan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 00:53 WIB

Dandim 0211/Tapanuli Tengah Wahyu Hidayat Bersedia Jadi Dewan Pembina DPC PJS Sibolga-Tapteng

Jumat, 21 Agustus 2026 - 00:40 WIB

Desa Sipaku Area Asahan Resmi Jadi Desa Binaan Imigrasi, Fokus Cegah TPPO dan PMI Nonprosedural

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:20 WIB

Jelang Rakernas PJS di Kepri, DPP Perkuat Konsolidasi dan Skema Gotong Royong

Kamis, 20 Agustus 2026 - 22:45 WIB

Kemendikdasmen Dampingi Program Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah di Medan, Airin Dorong Kolaborasi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 22:35 WIB

Tinjau Pelabuhan, Gereja, dan RSUD di Sikka, Wapres Gibran Soroti Fasilitas yang Perlu Segera Diperbaiki

Kamis, 20 Agustus 2026 - 22:30 WIB

Wapres Gibran Tinjau SD Inpres LXXVI Wairklau, Pastikan Pendidikan Anak Tetap Berjalan Pascabencana

Kamis, 20 Agustus 2026 - 22:30 WIB

Bertolak ke NTT, Wapres Gibran Libatkan Mahasiswa dalam Penanganan Pascabencana

Berita Terbaru