ATAPKOTA.COM, PULAU BANYAK, ACEH SINGKIL — Kondisi sejumlah fasilitas pendidikan di SMA Negeri 1 Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, mendapat perhatian dari pihak sekolah. Kepala SMAN 1 Pulau Banyak, Ihsan, S.Pd., menyebut sekolah yang berdiri sejak 2002 itu hingga kini belum mendapatkan rehabilitasi menyeluruh, sehingga sejumlah fasilitas mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan.
Keterangan tersebut disampaikan Ihsan saat menggambarkan kondisi infrastruktur sekolah yang berada di wilayah kepulauan tersebut. Ia berharap Dinas Pendidikan Provinsi Aceh memberikan perhatian terhadap kebutuhan perbaikan fasilitas belajar mengajar di SMAN 1 Pulau Banyak.
“Sejak dibangun pada 2002, sekolah ini belum pernah mendapatkan rehabilitasi menyeluruh,” ujar Ihsan.
Berdasarkan kondisi yang disampaikan pihak sekolah, kerusakan terlihat pada sejumlah ruang kelas, terutama bagian atap dan plafon. Beberapa bagian plafon dilaporkan mengalami kerusakan hingga berlubang.
Persoalan tersebut semakin terasa ketika hujan turun. Air disebut dapat masuk melalui bagian atap yang mengalami kebocoran dan membasahi lantai maupun meja belajar.
Kondisi ruang kelas yang basah dapat mengganggu kenyamanan siswa dan tenaga pendidik selama proses pembelajaran. Pihak sekolah juga menilai kerusakan pada bagian plafon perlu segera ditangani untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan warga sekolah.
Selain ruang kelas, halaman sekolah yang digunakan untuk kegiatan upacara juga menjadi perhatian. Pihak sekolah menyebut halaman kerap tergenang ketika hujan sehingga membutuhkan penataan dan perbaikan drainase maupun permukaan halaman.
Salah satu opsi yang diharapkan pihak sekolah adalah penataan halaman, termasuk penggunaan paving block apabila sesuai dengan hasil kajian teknis dan perencanaan anggaran.
Persoalan lain berada pada bangunan asrama putra dan putri yang saat ini disebut belum dapat dimanfaatkan. Kondisi tersebut berdampak terhadap siswa yang berasal dari wilayah yang membutuhkan akses transportasi laut untuk menuju sekolah.
Ihsan menyebut sekitar 60 siswa dari Desa Teluk Nibung harus menggunakan perahu untuk berangkat dan pulang sekolah. Menurut dia, biaya transportasi yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp10.000 per hari.
“Kalau asrama direnovasi dan dapat digunakan kembali, anak-anak dari Desa Teluk Nibung bisa tinggal di sekolah. Dengan begitu, biaya transportasi harian yang ditanggung orang tua dapat berkurang,” kata Ihsan.
Menurut pihak sekolah, pemanfaatan kembali asrama juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu siswa dari wilayah terpencil atau wilayah yang akses transportasinya bergantung pada jalur laut.
Namun, kebutuhan rehabilitasi tersebut tetap memerlukan kajian teknis dan penganggaran dari instansi yang berwenang. Termasuk memastikan kondisi bangunan, kelayakan konstruksi, kapasitas asrama, serta kebutuhan fasilitas pendukung sebelum kembali digunakan.
Pihak SMAN 1 Pulau Banyak berharap kondisi tersebut mendapat perhatian Dinas Pendidikan Provinsi Aceh. Mereka menginginkan adanya peninjauan langsung untuk menentukan tingkat kerusakan dan kebutuhan rehabilitasi berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Permintaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan perbaikan ruang kelas, tetapi juga menyangkut kelayakan halaman sekolah dan pemanfaatan kembali bangunan asrama.
Bagi sekolah yang berada di wilayah kepulauan, ketersediaan fasilitas pendidikan yang layak juga berkaitan dengan akses siswa terhadap proses belajar mengajar. Karena itu, kebutuhan rehabilitasi perlu dipetakan secara menyeluruh berdasarkan skala prioritas dan hasil pemeriksaan teknis.
ATAPKOTA.COM mendorong agar kondisi fasilitas SMAN 1 Pulau Banyak dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan penjelasan resmi dari Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, termasuk mengenai riwayat rehabilitasi sekolah, kondisi bangunan, usulan anggaran, serta rencana penanganan fasilitas yang mengalami kerusakan.
Laporan : Dalian bancin-atapkota.com
































