DUBAI — Sebuah kapal kargo berbendera Liberia, Eternity C, tenggelam di Laut Merah setelah diserang kelompok Houthi. Sedikitnya empat awak diduga tewas, sementara 11 lainnya masih hilang, menurut laporan Misi Operasi Aspides Uni Eropa, Kamis (11/7/2025).
Kapal milik perusahaan Yunani itu diserang pada Rabu lalu. Misi Uni Eropa menyatakan bahwa 10 orang berhasil diselamatkan: delapan dari Filipina, satu Yunani, dan satu India.
Namun, 15 awak lain sempat dilaporkan hilang. Dari jumlah itu, empat korban dipastikan meninggal menurut tim pencari yang masih menyisir area laut yang rawan tersebut.
“Semua kapal di sekitar lokasi diminta meningkatkan kewaspadaan,” demikian pernyataan resmi Misi Angkatan Laut Uni Eropa yang dikutip dari citynews.
Serangan ini menambah panjang daftar serangan mematikan Houthi di Laut Merah. Sejak akhir 2023, kelompok pemberontak dukungan Iran itu telah menargetkan lebih dari 100 kapal menggunakan rudal dan drone.
Kedutaan Besar AS di Yaman menyebut tindakan Houthi terhadap awak Eternity C sebagai “penculikan”, bukan penyelamatan. Kelompok Houthi bahkan mengklaim telah menahan beberapa awak, menambah ketegangan di jalur pelayaran internasional tersebut.
Insiden Eternity C menjadi yang paling mematikan sejauh ini, menandai eskalasi serius terhadap keamanan pelayaran global.
Kapal-kapal dagang sebelumnya sudah menjadi sasaran kelompok Houthi, yang mengaku bertindak sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza. Namun, para pelaut yang menjadi korban tidak memiliki keterlibatan langsung dengan konflik Israel-Hamas.
Sebelumnya, kapal Magic Seas juga diserang hanya beberapa hari sebelum tragedi Eternity C. Tak ada pengawalan dari pasukan angkatan laut internasional, termasuk armada AS dan Eropa saat kejadian.
Serangan ini mengulang peristiwa November 2023, saat Houthi menyita kapal Galaxy Leader dan menyandera awaknya hingga Januari 2024.
Situasi ini memperburuk posisi diplomatik kawasan. Sementara gencatan senjata antara Israel-Hamas belum jelas, perundingan nuklir AS-Iran juga kembali tegang. Pemerintah AS, yang kini dipimpin Presiden Donald Trump dalam periode keduanya, telah memerintahkan kampanye udara terhadap posisi Houthi.
Sebelumnya, pada akhir 2024, Trump mengumumkan pencapaian gencatan senjata dengan kelompok tersebut. Namun kini, serangan kembali terjadi tanpa tanda-tanda akan mereda.
Houthi telah menenggelamkan empat kapal sejak November 2023. Lintasan pelayaran Laut Merah, yang sebelumnya mengangkut kargo senilai $1 triliun per tahun, kini berubah menjadi zona berbahaya. (red)

































