WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memecat lebih dari 1.350 pegawai Kementerian Luar Negeri AS dalam langkah restrukturisasi besar-besaran, Jumat (11/7). Tindakan ini dilakukan hanya tiga hari setelah Mahkamah Agung mengizinkan pemangkasan besar-besaran birokrasi federal.
Sebanyak 1.107 pegawai sipil dan 246 pejabat Dinas Luar Negeri berbasis domestik terkena pemutusan hubungan kerja. Langkah ini mengejutkan banyak pihak, terutama di tengah ketegangan global seperti perang Rusia-Ukraina, konflik Gaza, dan krisis Iran-Israel.
Suasana haru menyelimuti markas besar Kemenlu di Washington. Banyak pegawai keluar sambil membawa kotak berisi barang pribadi mereka.
“Sungguh menyayat hati melihat orang-orang ini keluar sambil menangis,” ujar Senator Demokrat Andy Kim.
Mahkamah Agung yang kini didominasi kubu konservatif mencabut larangan pengadilan yang sebelumnya menahan rencana Trump membongkar apa yang ia sebut sebagai deep state, atau negara dalam negara.
Setelah kembali menjabat Januari lalu, Trump mempercepat pencopotan pejabat senior dan menggantinya dengan loyalis. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan lembaganya terlalu gemuk dan perlu memangkas 15 persen dari total pegawai.
“Ini bukan hanya pemecatan. Saat biro ditutup, maka semua posisinya ikut hilang,” ujar Rubio di sela-sela KTT ASEAN di Malaysia.
Namun, Asosiasi Pegawai Dinas Luar Negeri AS (AFSA) menilai langkah ini sebagai “pukulan fatal bagi kepentingan nasional” dan menyatakan penolakan tegas.
Kementerian Luar Negeri AS sebelumnya mempekerjakan lebih dari 80.000 orang di seluruh dunia, termasuk 17.700 di dalam negeri. Di sisi lain, USAID, lembaga kunci bantuan luar negeri, juga nyaris dibubarkan.
Menurut laporan The Washington Post, pegawai sipil menerima pemberitahuan pemecatan via email dan diberhentikan dalam 60 hari. Sementara pegawai Dinas Luar Negeri mendapat cuti administratif dan resmi diberhentikan dalam 120 hari.
Ned Price, mantan juru bicara Kemenlu era Biden, mengecam langkah ini sebagai “ceroboh dan merusak”. “Alih-alih melihat kinerja, mereka memecat orang hanya berdasarkan posisi penugasan hari itu,” tulisnya di platform X. (Red)

































