ATAPKOTA.COM, SIMALUNGUN — Gerakan Sekolah Bersih kini resmi menjadi program prioritas Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. Melalui program Kolaborasi Sumut Berkah yang diinisiasi Gubernur Sumut Bobby Nasution dan dijalankan oleh Kadis Pendidikan Sumut Alexander Sinulingga, sekolah-sekolah di wilayah VI Pematangsiantar-Simalungun mulai menerapkan Gerakan Sekolah Bersih berbasis kearifan lokal bernama SITALASARI.
SITALASARI, akronim dari Sekolah Indah, Tertata, Lestari, dan Asri, merupakan inovasi turunan yang digagas Cabang Dinas Wilayah VI sebagai bentuk konkret dari Gerakan Sekolah Bersih. Program ini berakar pada filosofi Simalungun “Habonaron do Bona” dan semangat gotong royong “Tolu Sahundulan”.
“Program ini bukan hanya soal kebersihan fisik sekolah, tetapi juga menanamkan karakter, nilai lokal, dan budaya lingkungan. SITALASARI adalah identitas sekolah bersih khas Pematangsiantar-Simalungun,” ujar August Sinaga, SPd., MAP., Kepala Cabang Dinas Wilayah VI, saat ditemui, Kamis (25/07/2025).
Gerakan Sekolah Bersih mencakup 12 area strategis sekolah seperti toilet, ruang kelas, laboratorium, taman, area parkir hingga ruang keamanan. Implementasinya dilakukan secara sistematis mulai dari pembentukan Tim Sekolah Bersih, penyusunan program kerja, hingga pelaporan berkala harian, mingguan, dan bulanan.
“Kami telah menyosialisasikan program ini ke seluruh SMA/SMK/SLB negeri dan swasta. Semua kepala sekolah kami dorong aktif membentuk Tim SITALASARI dan menjalankan program ini secara gotong royong,” tegas August.
Dalam pelaksanaannya, SITALASARI menggunakan 7 pendekatan terpadu:
-
Kebersihan lingkungan terjaga
-
Penataan rapi dan asri
-
Sarana mendukung hidup sehat
-
Pengelolaan sampah 3R
-
Edukasi ramah lingkungan
-
Efisiensi energi dan air
-
Partisipasi warga sekolah dan komunitas
Menurut August, nilai-nilai budaya lokal menjadi penguat karakter siswa. Filosofi “Tolu Sahundulan”, yang mencerminkan keharmonisan sosial antara Tondong, Sanina, dan Boru, diinternalisasikan dalam semangat kerja sama antarelemen sekolah.
“Dengan mengedepankan filosofi ini, kami ingin sekolah tidak sekadar bersih, tapi menjadi pusat pembentukan karakter unggul yang berlandaskan budaya,” jelas August.
Dinas Pendidikan Wilayah VI menargetkan seluruh sekolah di bawah kewenangannya sudah menjalankan Gerakan Sekolah Bersih SITALASARI paling lambat akhir tahun 2025. (*)


































